Giliran Keef Bercerita


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/01/03480446/giliran.keef.bercerita

Senin, 1 November 2010 |

OLEH BUDIARTO SHAMBAZY

Keith Richards, pendiri sekaligus gitaris serta pencipta lagu Rolling Stones, sudah terlalu identik dengan rock’n’roll. Bahkan, ada yang bilang ”Keef” adalah rock’n’roll! Mungkin itu berlebihan, namun hidup Keef sejak mendirikan Stones tahun 1962 sampai sekarang tak pernah lepas dari apa yang disebut dengan ”sex, drugs, and rock’n’roll”.

Terlalu banyak puncak peristiwa yang unik dan dramatis yang mewarnai kehidupan Keef selama 50 tahun terakhir ini. Beberapa tahun lalu ia membuat pengakuan sensasional bahwa ia pernah mencampur narkoba dengan abu jenazah ayahnya sendiri. Tak lama kemudian, saking mabuknya, ia terjatuh dari pohon yang dipanjatnya di sebuah pulau tempat berlibur di Pasifik.

Memang betul ia sekarang tidak lagi menenggak narkoba meskipun banyak yang skeptis dengan kejujuran Keef. Ia masih merokok seperti lokomotif. Alkohol? Jangan tanya karena ia sudah menikmati hampir semua jenis alkohol yang ada di dunia ini. Favoritnya wiski The Rebel Yell.

Ia sudah berkali-kali nyaris wafat karena gaya hidupnya itu. Suatu kali ia bahkan sudah dinyatakan meninggal dunia secara klinis, namun secara ajaib berhasil ”hidup lagi”. Keef tertawa-tawa menceritakan bagaimana ia dalam keadaan masih sadar melihat keluarganya sedang bersedih melepas kepergian dia.

Keef mungkin satu-satunya musisi rock yang tahan begadang selama 2-3
hari berturut-turut. Ia tak bisa lagi tidur normal, biasanya menjelang subuh baru bisa memejamkan mata. Namun, satu atau dua jam setelah itu ia sudah bangun menjalankan rutinitasnya.

Di tahun 1970-an Keef secara rutin mengganti darah dengan yang lebih segar, tak ubahnya drakula. Ia membawa pistol ke mana pun, selalu merasa nyawanya terancam setiap saat karena ada yang mau membunuhnya. Jangan pernah macam-macam dengan Keef karena ia masih kuat memukuli siapa saja, termasuk rekan gitaris Stones, Ron Wood, yang pernah merasakan bogem mentahnya.

Entah apa yang akan terjadi pada Stones jika Keef tidak mau lagi bermusik. Tetapi, jangan khawatir, Keef menolak pensiun. ”Kalau perlu, saya akan bermain bersama Stones sambil duduk di kursi roda,” ujar Keef sembari tertawa.

Ia tak peduli belum mendapat gelar ”Sir” berkat jasa besar Stones meningkatkan ekspor album-album Inggris ke seantero dunia. Ratu Elizabeth memberikan gelar kebangsawanan itu hanya untuk Mick Jagger, langkah yang dikritik para musisi maupun rakyat Inggris.

Keef baru saja merilis biografi berjudul Life yang langsung menyodok ke peringkat teratas buku terlaris di Amazon.com. ”Ternyata, menulis biografi lebih berat daripada yang saya kira. Pada awalnya terasa gampang, tetapi saya tidak merasakan bagaimana setiap peristiwa saling berkaitan dan apa dampaknya terhadap Anda. Tak mudah menulis tentang kematian anak Anda sendiri. Luka-luka lama kambuh kembali untuk disembuhkan,” tutur Keef kepada Associated Press.

Keef menulis Life bersama wartawan James Fox. Menarik bagaimana ia menceritakan ulang situasi London sejak era pasca-Perang Dunia Kedua sampai tahun 1960-an dan 1970-an. Menurut beberapa kritikus yang sudah membaca, Life bisa disejajarkan dengan buku-buku sejarah bermutu dan juga biografi bagus seperti yang ditulis Bob Dylan atau Eric Clapton.

Life tentu saja bercerita tentang saat Stones merekam maupun konser, pesta-pesta liar mereka, kisah asmara, penggerebekan polisi saat Richards dan rekan-rekannya mengonsumsi narkoba, kehidupan keluarga Richards, bahkan juga tips dari Richards tentang cara menyetem gitar, berkelahi, dan begadang.

”James Fox mengerjakan tugasnya dengan apik,” kata Robert Greenfield, mantan wartawan majalah Rolling Stone yang sering meliput konser Stones sejak tahun 1970-an. ”Ia bukan cuma sukses membujuk Keith bicara dan menulis, tetapi juga bersama Keith menulis biografi yang berkarya sejarah sastra,” tambah Greenfield.

Manuskrip

Fox mempelajari ribuan manuskrip Stones, termasuk surat-surat pribadi atau buku-buku harian penting. Ia bekerja mati-matian mewawancarai Keef untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa lama. Tak lupa, Fox melakukan konsultasi dengan narasumber-narasumber yang kompeten.

”Kami berkelana ke tahun-tahun di belakang untuk menghimpun cerita. Cara ini paling bagus untuk menulis biografi. Saya berusaha menghidupkannya kembali, baik secara sengaja mewawancarai Keith maupun secara kebetulan. Secara perlahan-lahan cerita itu hidup kembali menjadi literatur yang indah. Sebagian narasi berasal dari berbagai sumber, yang lalu didaur ulang oleh kalimat-kalimat Keith,” ujar Fox.

Keef lahir di Dartford tahun 1943 pada saat Nazi mengebom Inggris. ”Itu menjadi bukti bahwa Hitler mengincar saya,” tulis Keef. Ia masih mampu mengenang kehancuran fisik Dartford, termasuk merobohkan tembok sekolahnya. Ayahnya bekerja sebagai mandor di General Electric yang membuatnya jarang di rumah. Keef belajar menyanyi dan gitar dari kakeknya, Gus Dupres, yang berprofesi sebagai musisi.

Ia sempat menjadi penyanyi paduan suara, tetapi diminta mundur saat suaranya berubah pada usia 13 tahun. ”Saya sampai sekarang merasa tak berguna. Sejak saat itulah saya menyadari di atas langit ada langit dan saya mulai sinis kepada kekuasaan,” ujar Keef.

Keef menganggap rock’n’roll mengubah dunia dari hitam menjadi putih dan menjadi warna-warni. Ia mendengarkan lagu Elvis Presley, Jerry Lee Lewis, dan Chuck Berry cuma dari radio. Ia banyak belajar mengenai inspirasi dari buku The Catcher in the Rye karangan Holden Caulfield.

Tahun 1961 ia sedang naik kereta api dan berkenalan dengan Jagger, yang membawa piringan hitam artis-artis blues Amerika. Sejak itulah mereka bersahabat dan membentuk Stones yang mulai profesional sejak 1963. Hubungan Keef dengan Jagger menjauh sejak 1980-an ketika Si Bibir Dower memulai karier solo dengan mengorbankan kepentingan Stones.

”Dulu kami berteman, tetapi dalam beberapa dekade terakhir tidak lagi. Anda jangan berharap hubungan akan selalu mesra, selalu turun dan naik. Kami hanya terus mencoba mencari titik temu,” katanya tentang Jagger. Jagger mengaku sudah membaca Life dan merasa tidak keberatan dengan kritik Keef.

Keef sejak 1983 menikah dengan Patti Hansen yang memberikannya empat anak. ”Saya minta putri-putri saya mengedit buku saya. Saya tanya pendapat mereka mengenai saya, yang penting mereka mengaku menikmatinya,” katanya sembari terkekeh.

Kini Keef menikmati persahabatannya dengan mantan Presiden AS Bill Clinton, perpustakaan pribadinya di rumahnya di Connecticut, dan…tak mau punya telepon.

”Saya paling suka merekam lagu di studio, itu saja teknologi yang saya nikmati. Anda harus menerima kenyataan banyak yang sudah berubah dan mesti siap menghadapinya. Di saat yang sama saya tetap menikmati kehidupan yang lama. Itu sebabnya saya tak punya telepon. Kalau punya, telepon saya pasti berdering terus,” kata Keef.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: