Volatilitas Rupiah


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/27/04344543/volatilitas.rupiah

Rabu, 27 Oktober 2010 |

Helmi Arman

Seiring dengan kebijakan moneter longgar di negara-negara maju, arus modal ke negara-negara berkembang semakin deras.

Hal ini membawa manfaat, tetapi juga komplikasi. Untuk memperlambat aliran arus modal jangka pendek (hot money) ke Indonesia, nilai tukar rupiah harus dibiarkan bergerak lebih fleksibel.

Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, pasar keuangan kita telah dimasuki dana asing sekitar 15 miliar dollar AS. Indeks harga saham mencapai rekor tertinggi dan suku bunga instrumen rupiah turun ke level terendah sepanjang sejarah. Bahkan, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun telah turun jauh ke sekitar 7 persen, dari level 10 persen setahun lalu.

Tentunya derasnya arus modal asing ini sangat terkait dengan kebijakan suku bunga rendah di negara-negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang. Kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia pun telah meningkat jauh, seiring dengan terjaganya kondisi makroekonomi domestik.

Ada berbagai implikasi yang timbul dari derasnya arus modal asing ini, baik yang diinginkan maupun yang tidak. Positifnya adalah menurunnya biaya dana bagi pemerintah dan sektor swasta. Sementara ini setidaknya kesempatan untuk menggalang dana jangka panjang menjadi semakin terbuka.

Pemerintah maupun korporasi bisa menerbitkan obligasi dengan biaya bunga yang relatif murah untuk membiayai investasi jangka panjang, termasuk untuk proyek-proyek infrastruktur yang sudah lama dibutuhkan.

Sementara itu, sektor perbankan juga lebih leluasa menerbitkan obligasi sehingga memberi ruang bagi mereka untuk membiayai pinjaman tenor panjang dengan suku bunga tetap.

Namun, arus modal asing juga membawa berbagai komplikasi, terutama bagi pembuat kebijakan moneter. Ruang gerak bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga (bila tekanan inflasi terus meningkat) akan semakin sempit. Sebab, bila suku bunga dinaikkan, arus modal asing ke instrumen-instrumen pasar uang dan obligasi jangka pendek bisa semakin deras.

Nilai tukar rupiah pun mengalami tekanan menguat. Walaupun hingga kini kinerja ekspor masih aman-aman saja (karena pertumbuhan ekspor kita ditopang oleh komoditas mentah yang tidak terlalu sensitif terhadap nilai tukar), ada risiko rupiah bergerak liar bila suatu saat terjadi arus modal keluar yang tiba-tiba.

Memang selama ini untuk meminimalisasi fluktuasi rupiah, BI melakukan intervensi beli di pasar valas. Namun, ini juga membawa masalah lain karena cadangan devisa meningkat dan imbal hasil dari cadangan devisa tersebut jauh lebih rendah dari bunga yang harus dibayar oleh BI untuk instrumen-instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang dikeluarkannya.

Lalu, timbullah sorotan media mengenai defisit operasi moneter yang berpotensi menggerus permodalan BI—suatu kondisi yang tidak signifikan secara ekonomi—tapi bisa menjadi sorotan dari sisi politis.

Intervensi BI

Terkait arus modal asing, konsensusnya adalah sebisa mungkin menerima arus modal jangka panjang dan menolak arus modal jangka pendek (hot money). Oleh karena itu, manfaat dari arus modal asing ke SBI, misalnya, dipandang lebih kecil dibandingkan arus modal asing ke Obligasi Negara bertenor panjang.

Masalahnya, investasi pada instrumen jangka pendek Indonesia saat ini memang terlihat sangat menarik. Imbal hasilnya tinggi, tapi risikonya rendah. Suku bunga SBI tenor tiga bulan lebih tinggi sekitar 6 persen dibandingkan suku bunga dollar AS di pasar uang antarbank di London (Libor). Bukan hanya itu, perbedaan ini bisa dieksploitasi dengan mudahnya karena risiko pergerakan nilai tukar rupiah sangat kecil.

Sejak enam bulan terakhir, BI terus melakukan intervensi di pasar valas secara proaktif sehingga seolah-olah rupiah menjadi terlalu stabil. Pada bulan September, misalnya, volatilitas harian rupiah hanya sepertiga volatilitas harian euro, dollar Australia, dan seperempat volatilitas yen Jepang.

Jadi, tidak mengherankan jika kepemilikan asing atas SBI kembali meningkat dengan cepat walaupun pada bulan Juni BI membuat aturan wajib tahan (holding period) selama satu bulan. Mungkin bila rupiah dibiarkan berfluktuasi dengan lebih normal, risiko nilai tukar bagi investor asing akan meningkat. Dan mereka harus mengalkulasi ulang kelayakan investasi pada instrumen SBI.

Belakangan ini, wacana tentang perang mata uang global terus bergulir. Tekanan untuk bertindak terhadap aliran hot money sedang meningkat. Thailand baru-baru ini menghilangkan fasilitas bebas pajak bagi investor asing di pasar obligasinya, dan Brasil juga menaikkan tarif pajak untuk investor asing.

Bila negara-negara berkembang terus membangun pagar terhadap hot money, sementara Indonesia tidak berbuat banyak, maka kita akan jadi sasaran arus modal masuk yang sangat empuk. Aliran hot money akan sedemikian derasnya sehingga masalah-masalah di atas akan lebih besar lagi.

Baru-baru ini, BI diberitakan akan secara bertahap mengurangi SBI tenor-tenor pendek dan memperbanyak fasilitas term deposit yang tidak bisa diperdagangkan. Hal ini mungkin bisa mempersempit ruang gerak investor asing, tapi dengan ongkos yang besar bagi pasar uang domestik (yakni mematikan pasar sekunder SBI).

Kasus derasnya arus modal ke negara-negara berkembang saat ini sudah diakui sebagai masalah global yang harus ditanggulangi. Sebenarnya BI sekarang memiliki ruang gerak yang semakin luas untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang lebih tegas, yakni merevisi aturan-aturan yang membolehkan investor asing berinvestasi pada SBI.

Helmi Arman Ekonom Bank Danamon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: