Category Archives: HKBP

Ephorus HKBP: Pemerintah Harus Akui Kegagalan Mengayomi Warga Negara

Sumber:
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=12475

Senin, 20 Desember 2010 ,

RMOL. Pemerintah Republik Indonesia di bawah pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono memiliki reputasi buruk dalam penegakan hukum, terutama menjamin hak dan keamanan warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.

Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt DR Bonar Napitupulu, menyatakan, pemerintah lumpuh ketika ada kelompok warga negara tertentu bersikap main hakim sendiri kepada kelompok warga negara lain yang memiliki keyakinan berbeda. Selama tahun 2010 ini, negara terkesan melakukan pembiaran terhadap fenomena kekerasan atas nama agama. Pemerintah kehilangan roh dan jiwa UUD 1945 dan Pancasila.

Berikut selengkapnya wawancara Rakyat Merdeka Online, dengan pemimpin jemaat HKBP se-dunia ini, usai Ephorus yang digelari Ompui memimpin Pesta Jubileum 50 tahun HKBP Tebet Jakarta di Gedung Mulia Raja, Jakarta, Minggu (19/12).

Bagaimana pandangan Anda sebagai pimpinan jemaat HKBP soal penegakan konsep keberagaman dan kebebasan beragama yang selama ini berjalan di Indonesia?

Harus kita akui itu, sangat kita sesalkan. Mengapa? Pertama karena memang melalui sumpah pemuda kita sudah sepakat sebagai bangsa Indonesia. Bangsa itu bentuk kesepakatan nasional dan itu terdiri dari bangsa Batak, orang Jawa dan suku-suku lain, tapi kita sepakat semua jadi bangsa Indonesia. Berarti semua warga republik Indonesia harus punya hak hukum sama di seluruh nusantara ini.

Pada Orde Lama pernah ada istilah nation building, pembangunan bangsa, di Orde Baru tidak kita dengar dan lebih tak terdengar lagi pada Orde Reformasi, pembangunan bangsa itu nyatanya belum pernah terjadi. Pada saat pembangunan bangsa benar terjadi, tentu terutama menekankan bahwa bangsa Indonesia itu beragam, plural dan itu kita katakan bhineka tunggal ika, unity in diversity (persatuan dalam keberagaman). Tidak mungkin ada penyeragaman, harus unity in diversity.

Menurut Anda, apa hambatan utama penegakan konsep unity in diversity?

Kita harapkan pemerintah dan bangsa ini menjaga kebebasan beragama, terutama dalam mendirikan tempat ibadah. Tapi itu sepertinya sulit dilakukan karena salah satunya diakibatkan peraturan bersama menteri yang sebelumnya bernama Surat Keputusan Bersama atau SKB menteri tentang pendirian rumah ibadah.

Peraturan Bersama mendirikan tempat ibadah adalah bentuk inkonsistensi terhadap konstitusi dan dasar negara?

Jelas itu tidak sesuai Pancasila karena, kan pemerintah yang memberi ijin (mendirikan tempat ibadah), tapi kenapa mesti kita minta ijin orang lain untuk kemudian mendapat ijin dari pemerintah. Itu kan mengebiri wewenang pemerintah. Saya katakan pemerintah, karena pemerintah yang paling tahu planologi, lingkungan hidup dan sosial. Sebab itu yang paling kita sesalkan, Peraturan Bersama itu akibatkan masyarakat bisa main hakim sendiri.

Apakah Peraturan Bersama mengakibatkan saling benturan antar masyarakat?

Saya tidak mengatakan ada adu domba. Kalau ada satu kelompok agama yang belum penuhi peraturan bersama, ada satu kelompok tertentu memiliki hak mengeksekusi mereka. Yang paling kita sesalkan kejadian kekerasan seperti di Ciketing dan Rancaekek. Mengapa pemerintah membiarkan? Kenapa biarkan orang lain yang mengeksekusi, main hakim sendiri? Yang benar, kalau ada satu kelompok yang tidak setuju, dia harus melapor pada polisi kalau ada yang tak penuhi peraturan dan UU.

Sejauh mana reputasi pemerintah dalam penegakan hukum atas kejadian-kejadian kekerasan berlatarbelakang agama itu?

Saya tak katakan tidak ada peran pemerintah, tapi mereka (pemerintah) harus akui mereka gagal mengayomi hak hukum semua masyarakat, mereka gagal menyadarkan masyarakat bahwa bangsa ini hidup sebagai negara hukum.

Apakah ada indikasi tindak diskriminasi oleh pemerintah?

Ada masyarakat tertentu yang merasa punya wewenang lebih. Jangan sampai Peraturan Bersama itu tidak menggambarkan kebebasan dan kesamaan hak pada setiap insan bangsa Indonesia.

Anda menuntut Peraturan Bersama dicabut?

Peraturan Bersama dalam struktur hukum itu tidak ada tempatnya. Yang saya tahu, ada UUD, UU, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah. Peraturan bersama menteri-menteri itu tidak ada! Kita harapkan pemerintah mencari solusi lain yang menghargai keberagaman di segala hal agama maupun budaya.

Apa arah peran dan tugas HKBP di bawah pimpinan Anda dalam menghadapi situsi-situasi sulit tersebut?

Salah satu yang utama, kalau ada yang menekankan kebebasan beragama, itu bukan berarti membela Kristen apalagi membela HKBP. Itu tujuannya membangun konsep kebangsaan dan menjiwai roh kebangsaan. Saya tekankan kemanapun saya berada, harus berusaha melakukan itu agar jangan ada lagi orang Batak, Jawa, Padang, tapi yang ada Nusantara, yang ada Indonesia yang beragam budaya dan bahasanya. Kita harus bentuk kesadaran pada jemaat dan masyarakat umum bahwa kita punya hak sama dan harus menjalankan kewajiban sesuai hukum dan perundangan.[ald]

Parau Sorat, Sipirok – Betlehem-nya HKBP Yang Dilupakan

Sumber:
Majalah Nahasem (Naposobulung dan Remaja HKBP Semper) Edisi Oktober 2004

Oleh: St. Kamaruli Pohan Siahaan BBA

Pendahuluan

Pada hari Minggu sore tanggal 29 Agustus 2004, anak saya Donny saat pulang marminggu sore di Gereja HKBP Semper melapor bahwa jamita dari pendeta parjamita

sore itu menarik juga karena diceritakan sedikit perihal kehidupan ompu i Pendeta DR.I.L.Nommensen. Demikian komentar anak saya. Dari komentar tersebut saya teringat bahwa sebulan lagi tepatnya pada hari Kamis tanggal 7 Oktober 2004, HKBP akan berulang tahun yang ke-143. Suatu umur yang sangat panjang dan sudah lama & dilupakan karena sudah bertahun-tahun para parjamita pada hari Minggu disekitar tanggal 7 Oktober tersebut tidak pernah lagi menyinggungnya.
Mungkin sudah bosan atau memang sudah dilupakan. Baru kemudian tahun sesudah kelipatan 25 yaitu pada tanggal 7 Oktober 2011 akan teringat lagi saat beumur 150 tahun atau Jubileum 150 tahun HKBP. Dari pembicaraan diatas tadilah saya berniat untuk menulis tulisan ini, Mudah-mudahan berguna bagi kita semua.

A. Tempat Lahir HKBP
Bagi anda penggemar sejarah gereja, terutama sejarah gereja HKBP, pada saat anda melalui jalan lintas Sumatera bagian tengah dan tiba di kota kecil Sipirok, maka otomatis anda mengatakan bahwa anda telah tiba di kota kelahiran HKBP. Sebuah gereja yang indah marpalas-palas (menara) tinggi dengan satu pasang (dua buah) lonceng besar berdiameter satu meter dimana suaranya terdengar sampai 5 kilometer di Lembah Napa Sibual-buali. Di depan gereja yang bertetangga dengan mesjid Raya Sipirok tersebut berada dalam pargodungan lengkap dikelilingi sekolah, bagas huria untuk pendeta dan guru huria dan dibelakangnya rumah sakit.

Sedangkan di depan gereja tersebut terdapat tugu yang besar dan tinggi dan anda bependapat bahwa tugu tersebut adalah tugu tempat lahir HKBP. Pendapat tersebut tidak salah karena pada setiap penerbitan Almanak HKBP selalu dicantumkan sebagai berikut:

31 Maret 1861, Mula-mula sian halak Batak masuk Kristen, ima Simon Siregar dohot Jakobus Tampubolon na mandidihon ni pandita Van Asselt di Sipirok. 7 Oktober 1861. Parmulaan ni Rheinische Mission di Tano Batak (on ma hari hatutubu ni HKBP). Ai marrapat ma tingki i opat (4) halak pandita ima:
1. Pdt. Heine
2. Pdt. Klammer
3. Pdt. Betz
4. Pdt. Van Asselt, marsagi ulaon di Tapanuli.

Dari data diatas istilah anda mengambil kesimpulan tersebut bisa dianggap sudah benar tetapi sebenarnya salah karena:

1. HKBP Sebagaimana dijelaskan di Almanak HKBP tersebut dengan mengatakan di Sipirok sebenarnya bukan di kota kecil Sipirok tersebut tetapi jauh disana kurang lebih 5 Km, sebelumnya di kaki bukit Batu Olang atau To Nangge di desa Parau Sorat, dimana apabila anda melewati lintas Sumatera dari Jakarta ke Medan kurang lebih 4 Km sebelum kota Sipirok sesudah anda melewati Hotel To Sibohi Indah di desa Hutaraja, maka anda mengambil jalan kekanan akan melalui Sialagundi (luara Siregar dan Parau Sorat atau 1 (satu) Km dari Hutaraja atau dari Poken Salasa, Baringin Padang Natinggi (tempat asal Pendeta Petrus Nasution, salah satu dari ketiga pendeta Batak pertama disamping Johanes Siregar dan Markus Siregar) dan Parau Sorat kurang lebih 1 Km dari jalan lintas sumatera tersebut.

2. Tugu besar yang ada di depan gereja Sipirok tersebut adalah tugu Jubileum pertama HKBP tanggal 7 Oktober 1936 atau Jubileum 75 tahun yang dirayakan dan dipusatkan di HKBP Sipirok. Jadi tugu tersebut bukan tugu tempat lahir HKBP. Gereja HKBP Sipirok tersebut diresmikan pada bulan Mei 1864 sebagai gereja permanen pertama di Tanah Batak yang diresmikan oleh Rheinische Mission Geselschafh(RMG) suatu misi dari Jerman dan Pendeta Klammer sebagai pendeta pertama di Sipirok.

B. Berita Kesukaan (Injil) Masuk Ke Tanah Batak:
Pada tahun 1911-1924, Indonesia dijajah oleh Inggris dan sebagai penguasa di Indonesia di tempatkan seorang yang berasal dari Inggris yaitu Sir Thomas Stamford Raffles seorang dengan pangkat Leutenant Governoer General. Dimana Indonesia adalah bagian dari kekuasaan pemerintah Inggris di Asia dibawah pimpinan Lord Minto yang berkedudukan di Calcutta, India. Pada tahun 1924, pemerintah Inggris memberi izin kepada missionaris Inggris dari gereja Baptis untuk menabur benih diladang Tuhan di daerah Batak yaitu:
1. Natanael Ward, seorang ahli kesehatan.
2. Pendeta Evans seorang ahli dibidang pendidikan, mendirikan beberapa sekolah di Tapanuli.
3. Richard Burton, seorang ahli di bidang Ilmu Bangsa Bangsa dan Bahasa.

Beliaulah orang pertama yang menterjemahkan sebagian Perjanjian Lama kedalam bahasa Batak yaitu buku Kejadian dan Perjanjian Baru yaitu Buku Johanes, beliau bertempat. tinggal di Sibolga. Karena adat istiadat oleh orang Batak disamakan dengan agama dan juga terjadinya perang Paderi 1825-1830, maka misi ke tiga orang tersebut. tidak dapat berlanjut dan mereka akhirnya kembali kecuali Pendeta Natanael Ward yang memilih untuk tetap tinggal di Sibolga.

Pada saat pemerintahan Inggris mengembalikan Indonesia kepada Belanda sesuai dengan Treaty Of London 1824, maka Belanda disamping tujuan Gold juga melaksanakan Gospel dimana missi Nederlands Zendeling Genootschap (NZG), memulai pelayarannya dengan mengutus Pendeta Gustav ke Sumatera tetapi karena masih
berkecambuk perang Paderi maka beliau dialihkan ke pulau Jawa.

Pada tahun 1934 Belanda mengutus Pendeta Verhoeven ke daerah Pakantan di Mandailing dan mendirikan gereja serta membaptis penduduk setempat yaitu Kalirancak Lubis dan Jamandatar Lubis, keinginan untuk menyebarkan Injil dipedalaman Angkola maka beliau berangkat ke Sipirok. Pendeta Verhoeven juga menyurati Missi Baptis Amerika untuk membantu pelayanan di Sumatera. Gereja baptis Amerika dari Boston mengutus Pendeta Munson dan Pendeta Henry Lyman dan tiba di Sibolga pada tanggal 17 Juni 1934.

Mereka berencana menyebarkan Injil ke arah Timur Sibolga yaitu ke Tarutung tanpa terlebih dahulu mempelajari bahasa dan adat istiadat Batak. Mereka dibunuh di Lobupining oleh rakyat Raja Panggulamai. Tugu peringatan kepada kedua Pendeta tersebut kini berdiri tegak disana “The blood of the martir is a beans of Religion”. Gereja Baptis mengutus Pendeta Jacob Ennis dan bertempat tinggal di Pakantan. Usahanya kurang berkembang karena faktor agama lain yang sudah terlebih dahulu berkembang disana dan masalah kesehatannya sendiri.

C. Perkebunan Kopi:
Dataran tinggi Angkola dan Mandailing sangat subur untuk tanaman kopi, karet dan kayu manis dengan mutu yang sangat baik hingga terkenal sampai di Eropa. Berkat hasil bumi tersebut penghidupan masyarakat bertambah baik demikian juga dengan kesehatan masyarakat. dan pendidikan. Hal ini di sebabkan usaha dari para Missionaris dimana di samping mendirikan gereja, mereka juga mendirikan sekolah dan rumah sakit yang disebut sekolah Zending yang di pimpin oleh guru sekolah Zending dan Rumah Sakit. Zending, para pelajar juga orang yang berobat ke Rumah Sakit atau Balai Pengobatan tersebut tidak terbatas pada orang Kristen saja tetapi semua lapisan masyarakat sehingga baik kesehatan maupun pendidikan masyarakat bertambah baik. Pada tahun 1840-1841, Pemerintah Belanda mengutus Dr.Fransz Jimghim seorang ahli dalam bahasa suku bangsa dan tumbuh-tumbuhan. Dari hasil risetnya yang berjudul “Daerah Batak di Sumatera” menggugali
pemikiran Badan Missi Jerman untuk mengunjungi suku bangsa Batak.

Beliau juga merekomendasikan bahwa pegunungan di Angkola bagus untuk tanaman keras. Kebun Raya Bogor juga mencatat nama beliau sebagai seorang ahli tumbuh-tumbuhan. Pada tahun 1849-1856, Neubrownner Van der Tuuk seorang ahli bahasa diutus oleh Lembaga Alkitab Belanda (Kongsi Bibel Nederland) dari Amsterdam untuk meneliti bahasa Batak. Atas kegigihan dan kesabarannya beliau berhasil menerbitkan Buku Tala Bahasa Batak, Kamus- Bahasa Batak dan menterjemahkan beberapa bagian Alkitab ke dalam bahasa Batak. Neubronner Van der Tuuk inilah dianggap sebagai perintis jalan perihal pekerjaan Zending ke Tanah Batak.

D. Pendeta Gustaf Van Asselt Di Parau Sorat
Mungkin untuk orang Batak Angkola Dolok Sipirok nama Pendeta Gustaf Van Asselt ini boleh dikatakan sebagai pemancang tonggak Kekristenan di Sipirok khususnya atau di tanah Batak umumnya. Tidak kalah dengan Dr.I.L.Nomensen di Pearaja Tarutung mengapa? Gereja Ermelo di negeri Belanda pada talum 1850, memunculkan
gerakan rohani. Pimpinan gereja Armelo Pendeta Witteveen mengobarkan semangat penginjilan walaupun mereka hanya gereja kecil dan berjemaat petani saja.

Mereka mempunyai motto Koinonia berdasarkan Mateus 28 : 19. Jadi. hara ni I, kehe ma hamu tu sude bangso, baen hamu ma halahi gabe halak namangihutkon Au, didi hamu ma halahi di bagasan goar ni Ama, goar ni Anak, dohot goar ni Tondi Porbadia. Gereja inilah yang mengirimkan Gustav Van Asselt ke Sumatera setelah dithabiskan sebagai pendeta pada tahun 1856.

Tiba di Padang dan dipekerjakan di perkebunan kopi di Angkola Dolok-Sipirok sebagai seorang pendeta Gustav Van Asselt juga bekerja sebagai Opziediter pada perkebunon kopi dan juga sebagai “Slender dalan” pada dinas pekerjaan Umum saat itu karena ketiadaan biaya dan gereja Ermelo. Walaupun demikian tugas utamanya sebagai penginjil tidak pernah dilupakan. Untuk tempat beliau mendirikan rumah dan gereja, beliau mendapat hadiah tanah Bonda na Lolot Nasution di Parau Sorat.

Pada tanggal 2 April 1861 Gustaf Van Asselt membaptis Jason (Jakobus) Tampubolon dan Pagar (Simon) Siregar di Parau Sorat yang menjadikan beliau-beliau inilah yang dicatat oleh HKBP maupun GKPA sebagai orang pertama bangsa Batak atau Angkola yang menjadi Kristen.

Pada tahun 1858 gereja Ermelo Holland mengutus Pendeta Dammerbur yang bertugas di Huta Imbaru, Pendeta Van Dallen di Simapilapil Pendeta Betz di Bunga Bondar dan Pendeta Koster di Pargaratan. Untuk meramaikan penginjilan di Angkola berkat buku karangan Van der Tuuk yang ditemui oleh Dr.Fabri yaitu lnspektur Reinishe Mission Gesselshaft (R.M.G) di Jerman pada saat kunjungannya ke negeri Belanda beliau tergerak untuk memindahkan ke tanah Batak Missioner yang tugasnya terhenti karena kekacauan antara Belanda dengan Pangeran Hidayat di Kalimantan.

Pada tahun 1860 Badan Zending RMG Jerman memindahkan Pendeta Klammer dari Jawa ke Sipirok dan Pendeta Heine dikirim dari Jerman setelah sampai di Sipirok
mereka bergabung dengan Pendeta Van Asselt yang sudah ada di Parau Sorat. Mengingat para Penginjil dari Belanda (N.Z.G) merasa kurang pesat perkembangannya di Angkola dan juga datangnya Penginjil dari Jerman (RMG) maka pada tanggal 7 Oktober 1861 antara penginjil NZG dan RMG diadakan musyawarah untuk memperluas penginjilan di Tanah Batak.

Musyawarah tersebut dilaksanakan di rumah pendeta yang ada di atas tanah disumbangkan ke gereja oleh Bonda na Lolot Nasution di Parau Sorat atas prakarsa Pendeta Van Asselt. Pembukaan kebaktian dipimpin oleh Pendeta NZG dan setelah selesai musyawarah maka penutupan dilaksanakan oleh Pendeta RMG hasilnya daerah
penginjilan di tanah Batak, dibagi (marsagi karejo) sebagai berikut:
1. Pendeta RMG
• Pendeta Heine bertugas di Silindung dan Tapanuli utara.
• Pendeta Klaninier bertugas di wilayah Sipirok.
2. Pendeta NZG
• Pendeta Betz bertugas diwilayah Bunga Bandar.
• Pendeta Van Asselt bertugas di daerah Pahae.

Musyawarah pembagian daerah penginjilan ini membuahkan hasil yang lebih baik. Tanggal 7 Oktober 1861 tanggal musyawarah ini oleh Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKPB) dijadikan sebagai hari jadinya. Pada tahun 1862 Pendeta Dr.I.L.Nommensen tiba dari Jerman di Sipirok mula-mula ditempatkan di Parau
Sorat kemudian pada tahun 1864 pindah ke Tarutung, dan membuka Huta Dame dan seterusnya menyebarkan Injil di Tapanuli Utara.

Untuk seterusnya pada bulan Mei 1864, Pendeta Klammer di Sipirok meresmikan Gereja Sipirok yaitu gereja pertama yang dibangun Pendeta RMG ditanah Batak, dan pada tanggal 25 Desember 1864 Pendeta Klammer membaptis Thomas, Philippus dan Johannes menjadi Kristen yaitu baptisan pertama oleh Pendeta RMG.

Parau Sorat ini penting karena:
1. Tempat pertama dibaptis orang batak menjadi Kristen
2. Tempat lahir HKBP
3. Tempat pertama Seminari Sekolah Guru Huria Tanah Batak tahun 1867, dengan guru DR.A.Schreiber dan Leopold dimana murid-muridnya tersebut dikemudian hari
sekolah lagi untuk menjadi pendeta pertama orang Batak 4. Parau Sorat adalah pusat penyebaran agama Kristen di Tanah Batak dimana tempat diadakan rapat-rapat pendeta dengan presiden rapat-rapat pendeta pertama adalah DR.A.Schreiber tahun 1866-1873, yang berkedudukan di Parau Sorat. Sesudah DR.A.Schreiber kembali ke Eropa menjabat Inspektur RMG maka Dr.I.L.Nommensen-lah yang menggantikannya sebagai Presiden rapat-rapat pendeta yang kemudian sesudah aturan HKBP dilengkapi oleh kongsi Mission Barmen maka Presiden rapat-rapat pendeta itu adalah yang diangkat menjadi Ephorus.

E. Falsafah Jelok
Apabila anda berkesempatan mampir ke gereja Parau Sorat, maka anda tidak usah kecewa karena yang ada hanya sebuah gereja kecil biasa tanpa nama atau tanda-tanda apapun bahwa di Parau Sorat itulah pertama kali dan tetap diakui tampat lahir HKBP nabolon i, jala na bonggal i. Tanpa tugu, tanpa prasasti atau tulisan apapun, hanya ada gereja kecil biasa dan gambar 7 orang pendeta yang pernah melayani disana pada awal mulanya.

HKBP sudah tersebar di seluruh nusantara dengan gedung-gedung megah bahkan telah menyebar di luar negeri antara lain Singapore, Seatle, Ontario California, Colorado dan New York, tetapi telah lupa atau memang dilupakan seperti apa yang disampaikan oleh seorang pembicara pada Konfensi nasional HKBP di Jakarta Convention Center pada tanggal 26 Juli 2000, yaitu Marbun Banjarnahor bahwa HKBP lahir di luat Silindung dan mendapat applaus yang gegap gempita dari para peserta konvensi. Atau memang seperti falsafah model jelok yang tumbuh di Parau Sorat dan telah berbunga dan berbuah di seantero dunia yang fana tetapi tidak pernah melihat ketempatnya tumbuh. Ironis memang tetapi itu nyata. Bagaimana kalau kita para penganut Kristen yang lahir dan timbul dari gereja yang pernah disemaikan di Parau Sorat ini membuat tanda bahwa HKBP pernah menyatakan dirinya lahir disini dan membuat Parau Sorat sebagai salah satu tempat tujuan wisata rohani seperti Salib Kasih, Parau Sorat, Lobu Pining, Sigumpar, Huta Dame, Hepata, Huta Salem, Sipoholon, dll.

Parau Sorat, Sipirok tempat lahir HKBP yang terkenal dengan naskah Parau Sorat Sipirok sebaiknya diukir diatas batu besar dengan kata-kata yang diambil dari Mikha 4:2 sebagai berikut: “Marilah masuk ke rumah naik ke bukit Tuhan kita masuk ke rumah Allah Jakub supaya mendapat pelajaran mengenai jalan-jalan Tuhan dan kita berjalan pada lorong-lorongNya.” Ayat tersebut diatas adalah ayat yang menjadi turpuk di kala mereka pada tanggal 7 Oktober 1861 saat Pendeta Heine, Klammer, Betz, dan Van Asselt memutuskan bahwa mulai saat itu pelayanan di Tano Batak dilayani secara bersama antara Pdt. Betz dan Van Asselt dari Netherlands Pdt.Heine, Pdt.Klammer dari Rheinische Mission Geselschaft (RMG).

F. Kalau Bukan Kita Siapa Lagi
Gereja HKBP Parau Sorat sesuai dengan naskah Pajaeon Huria Kristen Batak Protestan Angkola (HKBP A) tanggal 1 Agustus 1976 dimana huria Parau Sorat adalah salah satu huria diantara 22 huria dan 9 orang pendeta yang dipajae (diserahkan) oleh HKBP kepada HKBP A sekarang GKPA, berarti sudah menjadi milik GKPA dan untuk Parau Sorat bukan lagi dicatat tanggal 7 Oktober 1861 itu di Parau Sorat tetapi tanggal 31 Maret 1861 yaitu mula-mula tardidi orang Batak pertama menjadi Kristen atau kita biarkan saja toh sudah ada Huta Dame di Tarutung tidak perlu balik ke Parau Sorat dan sudah ada Salib Kasih tempat DR.I.L.Nommensen pertama kali berdoa saat sampai di Luat Silindung. Biarlah sejarah nanti yang mencatat.

Penutup

Marilah kita syukuri HKBP pada tanggal 7 Oktober 2004 sudah genap berumur 143 tahun suatu umur yang panjang dan sering diguncang oleh gelombang yang hampir-hampir menenggelamkannya. Apakah kita tidak perlu merenungkan naskah Parau Sorat Sipirok yang oleh seorang Sekretaris Umum Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI saat itu, sekarang PGI), DSS. Marantika agar dapat diletakkan dialas batu untuk mengenang 100 tahun HKBP (tahun 1961). Orang lain saja tertarik akan hal tersebut mangapa kita tidak?

Apakah memang melestarikan tempat tersebut dengan suatu tanda baik berupa tugu, prasasti dan semacamnya adalah merupakan suatu pemberhalaan atas suatu tempat, entahlah. Penulis berharap dalam waktu yang akan datang di tempat tersebut sudah ada “suatu tanda” bahwa HKBP nabolon i lahir di suatu desa kecil bernama Parau Sorat “Betlehemnya HKBP” yang dilupakan, Semoga Tuhan memberkati. Amin dan Horas.

Daftar Pustaka

1. Disarikan dari Buku Parau Sorat Sipirok Parsamean yang dilupakan – K.Pohan Siahaan, BBA, Jakarta, 2003
2. Sejarah Gereja Kristen Protestan Angkola Hutaraja Sipirok – K.Pohan Siahaan, BBA, Jakarta, 2003
3. Almanak HKBP 2004, Kantor Pusat HKBP, Pearaja Tarutung.
4. Seratus tahun kekristenan dalam sejarah rakyat Batak, Panitia Distrik IX Perayaan Jubileum 100 tahun HKBP, Jakarta, 1961

Mengenal Liturgi (Tata Ibadah) HKBP

Sumber:
http://binsar.berteologi.net/?p=858

Binsar Pakpahan
(Disampaikan pada sebuah seminar liturgi di HKBP Tanjung Priuk, 2005)

Sejarah dan Latar Belakang Tata Ibadah HKBP

Liturgi HKBP berasal dari Kerajaan Prosia, Jerman. Pada waktu itu (abad ke-18) terdapat bermacam-macam denominasi Gereja di Jerman, tetapi secara umum hanya ada dua aliran Gereja yang ada, yakni Lutheran dan Calvinis. Keyakinan Kaisar yang memerintah Jerman waktu itu adalah apabila agama bersatu (dan hanya satu), maka negara akan menjadi kuat, dan apabila negara kuat, berarti kekuasaan Kaisar juga kuat. Karena itu negara berkepentingan untuk menyatukan berbagai denominasi yang ada di Jerman pada waktu itu, dan salah satu caranya adalah menyatukan tata ibadah yang ada agar menjadi sama di seluruh Jerman. Proses penyatuan ini juga memakan waktu bertahun-tahun dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan tata ibadah yang adalah gabungan dari tradisi Lutheran dan Calvinis.

Versi tata ibadah yang kita pakai sekarang adalah penggabungan kedua tradisi tersebut (dikenal juga sebagai Tata Ibadah Union), yang lahir sebagai sebuah liturgi kompromi di dalam pertentangan.[2

Tata ibadah HKBP sendiri telah beberapa kali mengalami perubahan. Agenda pertama yang dipakai dicetak pada tahun 1894. Agenda yang dipakai pendeta non-Batak berbeda dengan yang dipakai oleh Guru Huria. Tata ibadah yang dipakai oleh Guru Huria tidak memiliki Votum karena dianggap kurang pantas untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Tahun 1907, Agenda dicetak ulang tetapi tidak memiliki perubahan yang signifikan. Pada tahun 1918 Agenda disamakan, dan cetakan tahun 1937-lah yang kita pakai pada saat ini.[3

Kalender Gerejawi (Almanak) HKBP

Almanak HKBP adalah bacaan Alkitab yang telah ditentukan untuk satu tahun berdasarkan tahun Gerejawi. Yang dimaksud Tahun Gerejawi adalah hari raya liturgi yang tersusun berdasarkan kehidupan Yesus. HKBP memulai tahun liturginya pada Minggu Advent Pertama. Karena itu, Minggu sebelum Advent, yaitu Minggu ke-24 setelah Minggu Trinitatis, disebut juga sebagai Minggu ujung tahun, di sinilah dibacakan barita jujur taon dan peringatan akan mereka yang telah meninggal sepanjang tahun tersebut. HKBP menentukan Minggu Advent ini dengan menghitung mundur 4 hari Minggu dari Hari Natal. Demikian jenis Minggu dalam kalender gerejawi HKBP:

Nama Minggu/Artinya

Advent I – IV
Natal
Setelah Tahun Baru
I – IV Setelah Epifani / Hapapatar (Makin Terang, Makin Jelas)
Septuagesima / 70 hari sebelum kebangkitan
Sexagesima / 60 hari sebelum kebangkitan
Estomihi / Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku (Mzm 31:3)
Invocavit / Bia Ia berseru kepadaku, aku akan menjawab-Nya (Mzm 91:15a)
Reminiscere / Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya Tuhan (Mzm 25:6)
Okuli / Mataku tetap terarah kepada Tuhan (Mzm 25:15a)
Letare / Bersukacitalah (Yesaya 66:10a)
Judika / Luputkanlah aku ya Allah! (Mzm 43:1a)
Palmarum (Maremare) / Minggu Palma
Pesta I Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Paskah Pertama) / Paskah
Quasimodo Geniti / Seperti bayi yang baru lahir (1 Pet 2:2)
Miserekordias Domini / Tanah ini penuh dengan kasih Allah (Mzm 33:5b)
Jubilate / Pujilah Tuhan, hai segala bangsa (Mzm 66:1)
Kantate / Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Allah (Mzm 98:1a)
Rogate / Doa (Yer 29:12)
Exaudi / Dengarlah suaraku ya Tuhan (Mzm 27:7)
Pentakosta / Turunnya Roh Kudus
Trinitatis / Memperingati Allah Tritunggal
I – XXIV Setelah Trinitatis / Minggu Biasa

Berdasarkan minggu-minggu tersebut, bacaan Alkitab dalam setahun disusun dalam Almanak HKBP. Bacaan Alkitab itu akan diulang kembali setelah tiga tahun, artinya apabila kita memang mengikuti bacaan tersebut, maka Alkitab akan selesai kita baca dalam waktu 3 tahun.

Tata Ibadah HKBP dan Artinya

Setiap urutan dalam tata ibadah HKBP memiliki makna yang dalam. Banyak dari kita yang mungkin hanya mengikuti kebaktian Minggu di HKBP tanpa mengetahui makna dari setiap acara. Hal ini mungkin menjadi penyebab kenapa kita merasa bosan dan tidak bergairah mengikuti kebaktian tersebut, karena kita sendiri tidak tahu apa yang kita ikuti! Berikut adalah urutan dalam Tata Ibadah Kebaktian Minggu biasa yang tertulis di Agenda HKBP serta keterangannya.

Ø Sebelum memasuki acara yang pertama, jemaat telah memasuki ruang kebaktian dan bersiap menunggu lonceng dibunyikan (di kota besar penggunaan lonceng mungkin telah ditiadakan). Setelah lonceng dibunyikan, jemaat akan bersaat teduh untuk menyerahkan diri kepada Tuhan, menyiapkan hatinya untuk mengikuti ibadah.

Nyanyian Bersama
Nyanyian pembukaan ini sebenarnya merupakan nyanyian panggilan beribadah. Tetapi hati kita sudah harus siap untuk mengikuti ibadah sejak lonceng dibunyikan. Karena itu, nyanyian ini adalah kesiapan hati kita untuk mengikuti panggilan ibadah tersebut.

Votum – Introitus – Doa Pembukaan
Votum adalah meterai pertanda bahwa Allah hadir di dalam ibadah tersebut dengan ucapan: “Di dalam Nama Allah Bapa, dan Nama Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Nama Roh Kudus.” Inilah yang membedakan ibadah dengan pertemuan biasa, ibadah adalah persekutuan umat percaya yang menyambut kedatangan dan kehadiran Allah.

Introitus adalah pernyataan atau ajakan yang dikutip dari nas Alkitab. Bacaan ini diambil berdasarkan Minggu Gerejawi tertentu. Nas Alkitab ini juga menandakan bahwa jemaat sedang berada dalam suasana perayaan Minggu Gerejawi tertentu. Nas Alkitab ini disambut jemaat dengan menyanyikan “Haleluya” yang artinya “Pujilah Tuhan!”

Sambutan Jemaat disusul dengan doa pembukaan yang menekankan unsur kebersamaan. Doa ini disampaikan bersama, memohon agar Tuhan Allah mengatur dan memimpin ibadah tersebut.

Nyanyian Bersama
Nyanyian ini harus sesuai dengan Hari Raya Gerejawi dan merupakan respons Jemaat terhadap doa pembukaan.

Pembacaan Hukum Tuhan
Bagian ini adalah lanjutan dari nyanyian pembukaan dalam ibadah. Maksudnya, dengan memperdengarkan serta memahami Hukum Taurat dari Allah, anggota Jemaat yang beribadah sadar akan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran yang dia lakukan (Roma 3:20b). Hukum Taurat yang dibacakan bisa juga berfungsi sebagai cermin diri dan peringatan akan dosa kita. Jemaat menyambut dengan memohon kekuatan untuk melakukan Taurat-Nya.

Nyanyian Bersama
Nyanyian ini berisi respons Jemaat atas harapan Allah untuk menjalankan hukum Tuhan. Isi nyanyian ini harus berkaitan dengan Hukum Taurat.

Pengakuan Dosa
Setelah Jemaat sadar akan dosa-dosanya, maka tibalah saat untuk mengaku dosa-dosa tersebut ke hadapan Tuhan. Melalui ‘doa pengampunan dosa’, Jemaat memohon dalam kerendahan hati dan mengiba kepada Tuhan agar dosanya diampuni (bnd. Luk 15:21). Untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Allah, maka segala dosa harus terlebih dahulu dibersihkan. Setelah berdoa, janji Allah akan pengampunan dosa kita akan dibacakan. Allah mengampuni dosa dari orang yang telah mengakui dan menyesali dosa-dosanya (Yeh. 33:11). Setelah mendengar pengampunan dosa, kita bersukacita dan memuji Tuhan dengan mengucapkan “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi. Amin.”

Nyanyian Bersama
Nyanyian ini adalah respon Jemaat atas pengampunan dosanya.

Pembacaan Firman (Epistel)
Setelah umat mengakui dosanya, maka Allah datang menyapa umatNya melalui Firman yang dibacakan sebagai petunjuk hidup baru. Ini adalah kata-kata Allah menyapa umatNya melalui surat kiriman (Epistel), yang isinya untuk mendorong umat berbuat baik dan bersaksi. Setelah pembacaan Alkitab, Liturgis membacakan “Berbahagialah mereka yang mendengarkan dan memelihara Firman Allah. Amen.” Perkataan ini bermaksud agar umat mengingat bahwa Firman Allah adalah untuk diindahkan, bukan untuk didiamkan saja.

Nyanyian Bersama
Nyanyian ini adalah respon umat atas pembacaan Alkitab. Karenanya, nyanyiannya pun harus sesuai dengan pembacaan Epistel.

Pengakuan Iman Rasuli
Bagian ini adalah bagian yang harus ada dalam setiap ibadah Umat Kristen karena melalui bagian ini kita mengucapkan pengakuan iman kita akan Trinitas: Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Kita mengakui ini karena dosa yang telah dihapuskan dan Firman Allah (Epistel) yang telah dibacakan mendorong kita untuk mengakui iman kepercayaan kita.

Warta Jemaat
Bagian ini seringkali dirasa tidak perlu terdapat di dalam ibadah. Namun, HKBP memasukkan Warta Jemaat sebagai bagian dari ibadah karena semua kegiatan Jemaat adalah karya Allah dalam hidup kita. Karena itu, Warta Jemaat sebenarnya hanya berisi hal-hal yang ada kaitannya langsung dengan kehidupan Jemaat. Setelah Warta, Jemaat mendoakan hal-hal tersebut.

Nyanyian Bersama
Nyanyian ini merupakan respons Jemaat akan pengakuan imannya, sekaligus pengantar untuk kotbah yang akan didengarkan. Persembahan juga dikumpulkan pada pada waktu ini. Hal ini berarti bahwa mereka yang bersaksi melalui Pengakuan Iman, bersaksi juga melalui pengakuan akan berkat Tuhan yang diterimanya dan kesediaan hatinya untuk memberikan “persembahan syukur” sesuai dengan Taurat.

Kotbah
Kotbah adalah puncak dari acara kebaktian Minggu. Semua bagian dari ibadah minggu tidak boleh lepas dari nas kotbah yang akan disampaikan. Kotbah bukanlah pidato atau ceramah, melainkan Allah yang berbicara melalui pengkotbah, sebagai bekal hidup, pegangan dan penuntun hidup Jemaat.

Nyanyian Bersama
Nyanyian bersama ini adalah untuk merespons Firman Tuhan yang baru saja didengar, dan sekaligus sebagai penekanan kembali kotbah tersebut. Karena kotbah adalah klimaks, maka sebaiknya tidak ada lagi acara yang dilakukan setelah kotbah.

Doa Persembahan dan Nyanyian Persembahan
Sebelum pulang ke tempat masing-masing jemaat masih diajak untuk mendoakan persembahan yang telah diberikan karena segala sesuatu perlu dibawa di dalam Dia (Kol. 1:3). Jemaat menyambut doa tersebut dengan nyanyian bersama, yang menyatakan bahwa segala hal harus diserahkan kepada Tuhan (BE 204:2).

Doa Penutup/Doa Bapa Kami
Jika ibadah dibuka dengan doa, maka diakhir juga dengan doa. Doa penutup juga harus disesuaikan dengan hari raya gerejawi. Setelah itu doa tersebut disambung dengan Doa Bapa Kami. Ini merupakan doa yang mencakup segala kepentingan Allah dan kebutuhan manusia. Itulah sebabnya ini menjadi bagian akhir pada doa penutup.

Doksologi
Doksologi adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang dinyanyikan Jemaat sebagai respons atas seluruh karya anugerah Allah. Allah dipuji dan dimuliakan karena Dia adalah pemilik segala sesuatu dan pemberi segala sesuatu (Lihat Mat 6:13).

Berkat
Berkat yang ditulis di Bil 6:24-26 adalah berkat yang juga diberikan kepada Umat Israel. Melalui berkat ini kita memahami bahwa Allah juga telah memberkati Jemaat dengan berkat yang sama. Sebegai sambutan iman, maka Jemaat menyanyikan “Amin, Amin, Amin!”, yang berarti “ya benar! Terjadilah.”

HKBP Menjawab Perubahan dan Perkembangan

Banyak orang yang merasa bahwa Tata Ibadah HKBP adalah membosankan dan tidak bervariasi. Di dalam buku HKBP dan Tahun 2004 yang diterbitkan oleh Biro Informasi HKBP dikatakan:

“Menurut pengamatan, banyak warga HKBP yang tertarik mengikuti kebaktian di Gereja-gereja lain, terutama sekali kebaktian-kebaktian alternatif. Kita sering mendengar pendapat yang menyatakan bahwa tata kebaktian HKBP kurang menarik dan monoton. Kotbah-kotbahnya kurang menyentuh. Harus diakui bahwa tata ibadah kita sebagaimana yang terdapat dalam Agenda HKBP sudah sangat lama dan tetap memberikan kesejukan kepada warga HKBP. Kendati sudah tiba saatnya untuk memberikan tempat bagi unsur-unsur baru yang menghidupkan kerohanian para warga yang suka pada bentuk kebaktian yang lebih longgar dan santai. Oleh karena itu melalui Rapat Praeses HKBP, sejak tahun 1999 kita sudah menyarankan agar jemaat-jemaat melaksanakan kebaktian-kebaktian alternatif dengan tata ibadah yang lebih bebas, namun tetap mengikuti nilai-nilai Kristiani kebaktian warga HKBP………salah satu bentuk pergumulan akan tata ibadah tersebut telah diperagakan pada Ulang Tahun Pesta Perak STT HKBP tanggal 12-13 April 2003 lalu. Ibadah alternatif dengan mempergunakan alur kesenian Batak telah menggugah sebagian besar pengunjung dalam memahami kemurahan Tuhan pada suku Batak. Di samping itu, tercetus pula semangat untuk merevisi pemikiran bahwa adat Batak identik dengan kekafiran. Dalam ibadah tersebut produk budaya, karsa dan karya manusia Batak melalui ulos dipergunakan kembali sebagai pendukung ibadah.”

Dengan kata lain, HKBP telah membuka dirinya terhadap kemungkinan dilaksanakannya ibadah dengan menggunakan tata ibadah di luar Agenda yang biasa, selama ibadah tersebut tetap berpegang kepada nilai-nilai Kristiani yang ada pada tata ibadah minggu biasa.

Penutup dan Saran

Tata ibadah HKBP sebenarnya memiliki makna liturgis yang sangat dalam. Namun, banyak dari Jemaat yang kurang mengetahui arti dari setiap acara dalam ibadah tersebut. Masalah utama adalah kurangnya sosialisasi arti liturgis Tata Ibadah HKBP.
Bagi pemuda dan remaja pemilihan lagu dalam kebaktian umum sering dirasakan kurang cocok dengan jiwa mudanya. Karena itu, sebaiknya pemuda dan remaja memilih lagu yang sesuai dengan memperhatikan penempatan lagu-lagu di atas.
Persiapan pemain musik dalam ibadah juga penting, karena musik dapat mengantar kita ke dalam sebuah penghayatan yang dalam, dan dapat juga membawa kita jatuh ke dalam pencobaan. Pemusik harus selalu ingat bahwa mereka bertugas untuk mengiringi jemaat, karena itu persiapan yang baik perlu dilakukan.
Tata ibadah alternatif dengan pemilihan lagu di luar Buku Ende dan Kidung Jemaat telah dimungkinkan selama mereka dilakukan dengan penuh kesadaran liturgis. Yang dimaksud kesadaran liturgis adalah dengan mengindahkan kaidah urutan liturgis yang ada dalam Tata Ibadah Minggu HKBP.

Daftar Pustaka

Sihombing, J. (ed.) Homiletik (Poda Parjamitaon) dohot Deba Hatorangan na Mardomu tu Agenda. Pematangsiantar: HKBP, 2000.

Lumbantobing, Bonar. “Kehidupan Menjadi Calon Pelayan” (makalah yang disajikan dalam persiapan calon pelayan HKBP di Jetun, Silangit, Maret 2004).

Manullang, JM. “Suatu Pemahaman Tentang Tata Ibadah (Liturgi) HKBP” dalam Midian Sirait (ed.), Menjadi Kristen yang Taat dan Beriman. Jakarta: CV Marintan Jaya, 2001.

Biro Informasi HKBP. HKBP dan Tahun 2004 Sebagai Tahun Kesembuhan Keluarga. Pematangsiantar: HKBP, 2004.

Rachman, Rasid. Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Agenda HKBP Bahasa Batak dan Bahasa Indonesia

Siagian, Riris Johanna. Satu Visi Menuju HKBP Yang Baru: Penelitian dan Analisis Historis-Kritis, Naratif dari Perspektif Perempuan. Tarutung: HKBP, 2001.

[1

[2 Hati-hati dengan penggunaan istilah Liturgi dan Tata Ibadah!

[3 Tidak banyak keterangan yang bisa diberikan mengenai perbedaan tata ibadah-tata ibadah ini. Mungkin yang paling jelas adalah perbedaan letak persembahan. Persembahan tadinya diberikan sesudah kotbah namun kemudian ditambahkan dengan sebelum kotbah karena alasan kepraktisan. Persembahan yang diberikan tiga kali akan terlihat merepotkan apabila diberikan pada satu kesempatan saja. Akhirnya kesempatan untuk memberikan persembahan ditambahkan juga pada waktu sebelum kotbah.

Utusan Damai di Kemelut Perang – Menaklukkan Toba

Sumber:
http://nommensen.wordpress.com/terjemahan-artikel-brmg/menaklukkan_toba/

Utusan Damai di Kemelut Perang
Menaklukkan Toba

BRMG 1882 (7) 202–205
Setelah mengadakan perjalanan ke Danau Toba para penginjil berniat untuk menetap dan membuka pos zending di sana. Kemungkinan itu dulu sudah pernah disinggung oleh penginjil Nommensen dalam laporan tahun 1876.
Perang dan penaklukan Toba sangat mendukung dan mempercepat upaya pembukaan pos penginjilan. Walaupun tidak secara langsung, para penginjil kita di Silindung memainkan peranan cukup besar dalam ekspedisi militer Belanda terhadap Toba. Upaya mereka untuk menyebarkan injil di Silindung mendapatkan perlawanan dari Singamangaraja yang dulu maupun dari Singamangaraja yang sekarang.[1] Karena sudah kehilangan sebagian besar kekuasaan dua-duanya berusaha untuk memperoleh kembali pengaruhnya yang hilang dengan mengusir para penginjil. Singamangaraja terutama memusuhi agama Kristen, akan tetapi karena ia bersekutu dengan orang Aceh di utara maupun dengan orang Batak Islam di timur maka kegiatan mereka juga memusuhi pemerintah Belanda. Dengan demikian sangat bijaksana keputusan pemerintah untuk langsung bertindak memperluas dan memperkokoh kekuasaan mengingat tindak-tanduk orang Aceh dan jaringan mereka yang makin hari menjadi makin ketat dan luas.
Untuk menilai benar salahnya penaklukan Toba yang dilakukan dengan begitu cepat dan dengan sangat sedikit biaya maupun jumlah korban, maka perlu diperhatikan butir-butir berikut: [1.] Secara formal Silindung sudah lama termasuk wilayah kolonial Belanda walaupun mereka memang jarang sekali melaksanakan pemerintahannya. Karena status hukum Silindung sebagai wilayah kekuasaan Belanda maka penginjil kita mendapatkan izin untuk menetap, dan berhak untuk meminta perlindungan pemerintah. [203]
[2.] Mengingat hubungan Silindung dan Toba yang begitu erat maka upaya pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan di Silindung hanya dapat dilakukan dengan sekalian menaklukkan Toba. Hal itu penting karena Toba, yang padat penduduk, terletak di antara wilayah perkebunan yang subur di pantai timur dan Tapanuli dengan pelabuhannya yang penting di pantai barat.[2]
[3.] Penaklukan Toba menjadi begitu penting dan tidak dapat diundurkan lagi karena adanya unsur Aceh. Selain itu kita tidak boleh melupakan bahwa Belanda sudah lama merencanakan dan mengupayakan penaklukan seluruh bagian utara pulau Sumatra. Aceh menjadi musuh yang bertahun-tahun sangat merepotkan mereka, dan malahan sampai sekarang masih sering merepotkan pemerintah. Aceh di dahulu kala pernah menguasai hampir seluruh kawasan pesisir Sumatra. Orang Batak juga pernah berada di bawah kekuasaan Aceh dan bagian utara daerah Batak hingga kini masih berada di bawah pengaruh Aceh. Pada masa kekacauan menjelang ekspedisi terhadap Toba, orang-orang tua menceritakan bahwa mereka dengar dari orang tuanya bahwa dahulu mereka membayar upeti pada orang Aceh. Dalam doa [3] sampai sekarang pun mereka masih menyembah Partuan Soripada di Atse. Oleh sebab itu maka Belanda harus secara tegas mematahkan tiap upaya Aceh untuk memperluas pengaruh atau malahan mempersatukan suku-suku yang ada di pedalaman pulau Sumatra untuk melawan Belanda.
Penaklukan Toba amat penting untuk pemerintah Belanda, tetapi lebih penting lagi untuk zending kita. Sekiranya Singamangaraja beserta dengan sekutunya, baik Islam, Aceh, maupun yang lain, berhasil mengusir para penginjil dan menghapus agama Kristen di Silindung maka akibatnya bukan revitalisasi kekafiran melainkan masuknya agama Islam, dan kemungkinan agama Kristen berkembang di sana menjadi hampir sirna.
Pada masa kekacauan menjelang perang Toba banyak orang kafir di Silindung dan di kawasan arah utara dari Silindung mempertimbangkan untuk masuk Islam. [204] Waktu itulah para penginjil menyadari betapa sedikit mereka peduli pada kekafirannya dan betapa mudah mereka mempertimbangkan langkah yang sedemikian menyesatkan.
Puji Allah hal itu tidak terjadi. Kemenangan Belanda dalam ekspedisi yang amat cepat dan perluasan kekuasaan mereka hingga ke Danau Toba membawa berkat kepada zending kita, dan sangat penting dalam tiga hal: 1. Pemerintahan di Silindung dilaksanakan secara semestinya sehingga para penginjil dapat beroperasi tanpa ancaman. Pemerintahan Belanda yang ditetapkan di bawah kondisi yang begitu unik, mestinya – di mata penduduk – kelihatan seperti pemerintah yang Kristen atau paling tidak ramah terhadap agama Kristen. Hal itu [Kaitan pemerintah Belanda dengan agama Kristen] merupakan faktor yang begitu menentukan di Silindung yang juga akan berpengaruh di Toba. 2. Hal yang paling penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah zending kita bisa masuk. Memang ada kemungkinan bahwa orang Toba membenci orang Eropa setelah Belanda mengalahkan dan membakar kampung mereka. Namun hal itu tidak terjadi. „Berkat tangan Tuhan,“ demikianlah tulisnya penginjil Nommensen waktu itu, „dan hal ini menjadi tanda bahwa Tuhan menghendaki rakyat hidup dalam kedamaian, berkat tangan Tuhan ekspedisi militer dikepalai oleh seorang yang sudah bertahun-tahun mengenal orang Batak, orang yang mengetahui kepentingan rakyat, dan yang didampingi perwira yang merasa belas kasihan dengan musuh, yang disegani musuh karena keberaniannya menyerang, yang dengan lapang hati tidak mengejar mereka yang lari. Dengan demikian orang Batak dapat kesan betapa besar keagungan dan kemuliaan orang Eropa sehingga mereka tidak dapat membenci kita, apalagi karena Tuhan menunjukkannya bahwa mereka sendiri bersalah.
Kalau kejadian berlanjut sebagaimana sekarang maka di dalam beberapa tahun terbukalah lahan yang luas bagi zending kita. [205] Kalau situasi menjadi tenang kembali maka kita bisa masuk, apalagi karena kita dilihat sebagai pelindung terhadap pemerintah. Mereka melihat bahwa siapa saja yang menuruti nasihat kami tidak akan menderita, dan tidak perlu khawatir. Mereka yang menderita salah sendiri karena mereka tidak menerima nasihat kita. Usahakanlah agar sebanyak-banyaknya penginjil bisa datang ke Toba karena sekarang masa penginjilan mulai di Toba.”
Dengan demikian juga terucap butir ketiga:
3. Akibat perang Toba maka orang makin percaya pada penginjil dan sudah ada yang minta agar kita datang.
w
CATATAN

[1] Singamangaraja XI dan XII.
[2] Pada waktu itu daerah Tapanuli masih terbatas pada wilayah yang kira-kira sama dengan kabupaten Tapanuli Tengah yang sekarang. Pelabuhan yang penting itu Sibolga.
[3] Tonggo-tonggo.

Utusan Damai di Kemelut Perang – Surat Nommensen

Sumber:
http://nommensen.wordpress.com/terjemahan-artikel-brmg/laporan-nommensen/

Utusan Damai di Kemelut Perang
Surat Nommensen

Laporan Terakhir tentang Perang di Toba

oleh I.L. Nommensen. BRMG 1878 (12): 361-381

Sepanjang tahun ini kita sudah berulang kali menyajikan berita tentang perang di Toba, tetapi baru sekarang kami bisa mencetak laporan lengkap oleh saudara kita Nommensen yang dengan mata sendiri melihat peristiwa yang terjadi. Perang ini dan perubahan yang terjadi akibat perang itu betapa penting sehingga dirasakan perlu untuk menulis ulang sejarah peristiwa itu sekali lagi walaupun sebagian yang sudah pernah ditulis sebelumnya diulang lagi. Penulisan sejarah perang dari penginjil Nommensen yang sesuai dengan fakta dapat kiranya membantah segala tuduhan yang dilontarkan kepada pihak zending Kristen Batak. Para penginjil kita tidak perlu merasa malu atas peranan mereka dalam perkara ini.
Di tengah-tengah kemelut perang mereka menjadi malaikat perdamaian. Kami yakin bahwa perang itu akan bermanfaat bagi mereka untuk membuka jalan bagi injil dan memenangkan hati orang. Untuk memahami kisah berikut tentang berlangsungnya perang kiranya berguna bila pembaca melihat peta Toba yang terdapat di edisi ke-8 tahun ini.
Berikut ini surat Nommensen:

[362] Badai yang mulai melanda kami segera sesudah konferensi terakhir dengan segala kekacauan dengan bantuan Tuhan kini sudah berlalu. Keadaan di sini berubah total, tetapi sekarang akhirnya saya punya waktu untuk menceritakan kembali rangkaian peristiwa tahun yang lalu.
Segera sesudah konferensi Juni 1877 musim pesta bermula bagi orang Batak yang jatuh bertepatan dengan mulai musim tanam yang baru, dari 1 Juli hingga bulan September. Itulah musim pesta. Banyak marga mengadakan pesta horja; yang langsung memengaruhi kami ialah pesta dua marga yang tinggal dekat sini sehingga banyak anggota paroki kami mempunyai hubungan keluarga dengan mereka. Pada malam hari mereka memukul gendang, meniup serunai, makan dan minum. Pada siang hari mereka membunyikan bedil dan menari. Kemeriahan itu tentu menarik perhatian orang, terutama muda-mudi. Beberapa muda-mudi, dan juga orang-orang yang mempunyai talian saudara dengan pihak pelaksana pesta, tergoda menghadiri pesta itu. Hal mana yang tiap kali disambut kaum kafir sebagai kemenangan mereka.
Tahun yang lalu paroki saya menghadapi banyak percobaan. Karena pergaulan laki-laki [umat paroki Nommensen] dengan tentara maka mereka banyak dihadapkan percobaan karena pekerjaan yang mereka lakukan umumnya sebagai kuli, dan, karena mereka lebih mengetahui keadaan setempat, mereka juga menjadi calo untuk perbekalan [tentara] sehingga ada di antara mereka yang imannya menjadi rusak. Namun kesetiaan penggembala Tuhan kita yang menghibur kita. Sebabnya tahun yang lalu banyak orang jatuh sakit, hal mana dilakukan Tuhan untuk menghukum dan menegakkan disiplin di antara umatnya. Namun tahun yang lalu juga dianugerahi rahmat Allah. Banyak orang meninggal karena tifus dan disentri. Hampir semua orang Batak yang berjalan dari Silindung ke Bahal Batu kena salah satu dari penyakit itu.
[363] Banyak orang yang terpaksa ditandu pulang, lain orang membawa kumannya ke Silindung menularkan penyakit pada keluarganya. Di antara orang yang meninggal terdapat Nathanael dan Benjamin Kepergian mereka sangat menyedihkan saya. Nathanael termasuk salah satu orang yang dibaptis pada 14 Oktober 1866.
Berikut ini laporan saya tentang perang. Menurut saya dalam sejarah Hindia-Belanda belum pernah ada ekspedisi militer yang begitu cepat dan begitu berhasil seperti Ekspedisi Toba, dan saya yakin pemerintah tidak akan melarang usaha kita untuk secepatnya menetap di Toba. Untuk sementara waktu para penginjil terpaksa meninggalkan Bahal Batu karena Bahal Batu menurut Gubernur [Sumatra] tidak termasuk wilayah Silindung. Namun sekarang sudah terbukti sehingga Gubernur tidak ada pilihan lain, ia harus mempercayainya. Dulu penginjil Püse hanya minta izin untuk bertugas di Pangaloan sementara penginjil Metzler hanya ada surat izin untuk menetap di Hindia-Belanda. Keduanya sekarang sudah minta izin untuk bertugas di Tapian Na Uli sehingga tidak lama lagi Püse bisa kembali ke situ. Penginjil Metzler mungkin tidak akan kembali ke sana karena keadaan kesehatan fisik maupun mental.
Sekarang kita kembali pada cerita perang: Pada akhir musim gugur [akhir November–pertengahan Desember] 1877 terdengar bermacam-macam desas-desus. Orang Batak yang kembali dari pesisir membawa kabar bahwa Raja Stambul [1] (Raja Konstantinopel) bersama dengan rakyatnya [2] akan datang ke Sumatra untuk bersekutu dengan orang Aceh kalau Kerajaan Ottoman tidak lagi bisa bertahan menghadapi Rusia.[3] Harinya bendera hijau nabi berkibar sudah ditetapkan dan umat Islam akan bangkit dan membunuh semua orang kafir dan Kristen. Setiap hari ada kabar angin baru. Terdengar orang Belanda tidak lagi mempunyai tentara dan akan kalah dalam perang Aceh.
[364] Khotbah kami tidak dipercayai oleh kaum kafir, mereka percaya pada cerita bohong itu dan saling menakuti satu sama lain. Bahkan beberapa orang Kristen meminta nasihat kepada kami. Kabar bahwa ada 40 orang Aceh masuk ke Toba membuat keadaan menjadi lebih parah lagi. Masyarakat menjadi makin resah dan mulai menggali harta bendanya. Lalu datang utusan Singamangaraja ke Silindung mengumumkan di pasar-pasar bahwa Singamangaraja akan datang bersama dengan orang Aceh dan membunuh orang Eropa dan orang Kristen. Kaum kafir tidak perlu khawatir asal bersikap netral. Raja yang beragama Kristen berunding dan mempertimbangkan menyerang utusan Singamangaraja dan membawanya ke Sibolga.[4] Mereka bertanya kepada kami apakah pemerintah akan membantu mereka sekiranya mereka diserang oleh kaum kafir Silindung. Tentu saja kami tidak bisa menjaminnya. Waktu mereka berunding utusan Singamangaraja ternyata sudah pergi, barangkali karena rencana mereka tidak berhasil atau karena mereka mendengar para raja Kristen hendak menangkapnya. Beberapa raja memperlihatkan kepada mereka keuntungan yang mereka peroleh dari adanya para penginjil: 1) tiada lagi Bonjol [5] (Melayu) yang datang mengganggu sejak kedatangan para penginjil, 2) para penginjil hanya berbuat baik seperti memberi obat, dan 3) sangat tolol kalau Singamangaraja sekarang mau bersekutu dengan mereka yang membunuh neneknya.[6] Mereka juga mengatakan akan menjaga keselamatan para penginjil. Setelah utusan Singamangaraja kembali mereka membeberkan berita bahwa orang Bonjol akan menyerang lagi, dan bahwa orang Silindung sudah bersekutu dengan orang Bonjol.[7] [365]
Maka terjadilah bahwa seorang Silindung bernama Morsait Hujur berjalan ke Toba untuk menjemput istri dan anaknya. Setiba di Naga Saribu mereka ditangkap dan dipasung karena sebuah perkara lama, demikian alasannya. Setelah kejadian itu tidak banyak orang Silindung berani berjalan ke Toba; orang Toba juga masih marah pada orang Silindung karena desas-desus tadi. Akibatnya makin banyak kabar angin yang tidak jelas atau dilebih-lebihkan perihal tindak-tanduk orang Aceh di Toba yang masih tetap ada di Bangkara dan di Muara. Beberapa orang kelahiran Toba yang menetap di Silindung membawa berita bahwa orang Aceh akan ke Silindung dulu, namun lain orang mengatakan mereka akan ke Samosir dulu. Dalam keadaan seperti itu kami sendiri tidak mungkin ke sana dan kami juga tidak berani menyuruh orang Kristen dari Silindung ke Toba karena menurut adat Batak kami yang harus menanggung mereka hal mana tidak mungkin kami lakukan. Dari Barus dan Singkel [8] dikonfirmasi memang ada 40 orang Aceh yang berangkat ke Toba. Seorang raja di Silindung mengkonfirmasikan kedatangan raja-raja dari Padang Bolak ke Huta Tinggi, dan bahwa raja-raja di Huta Tinggi kembali dengan mereka ke Padang Bolak untuk merekrut pasukan bantuan. Hari keberangkatannya ke Toba juga sudah diketahui, dan memang mereka berangkat pada hari itu ke Toba, tetapi tidak lewat Silindung melainkan melalui Sipahutar ke Butar lalu ke Huta Tinggi karena sudah ada serdadu di sekitar Silindung.
Keresahan makin menjadi dan kami tidak sanggup untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya karena tidak ada yang berani pergi ke Toba. Semua orang siap siaga dengan memegang senjata, dan penginjil di Bahal Batu saking ditakuti oleh orang yang datang dari Toba sehingga mereka percaya bahwa pada malam itu juga orang Aceh dan sekutunya akan datang.
[366] Surat dengan berita tadi tiba di sini pada jam 1:30 malam. Pada keesokan hari bersama dengan penginjil Simoneit yang sedang ada di sini, kami berangkat ke Bahal Batu naik kuda. Dalam perjalanan kami bertemu dengan Israel yang juga ikut dengan kami. Setiba di Bahal Batu kami mendapatkan penduduk kampung duduk di luar kampungnya dengan membawa lembing dan bedil. Setiba di pos zending datanglah Partaon Angin yang sudah tua itu dan kami memberitahu bahwa kami datang untuk menjemput Saudari Metzler sementara Penginjil Simoneit dan Israel tetap di situ dengan penginjil Püse. Namun orang tua yang cerdas itu menjawab: “Lebih baik aku mati dibunuh daripada saya membiarkan Saudari Metzler pergi karena beliaulah jiwa kami; kalau ia pergi maka seluruh isi Bahal Batu akan pergi pula. Biarkan saja dia di sini bersama suaminya. Mereka tidak perlu khawatir, kami akan melindungi mereka. Selama Saudari Metzler di sini maka Bahal Batu tetap akan ada. Dari pembicaraan selanjutnya tampak jelas bahwa dia hanya ingin memanfaatkan keberadaan Saudari Metzler. Dalam pikirannya, selama masih ada perempuan Eropa di sini mereka pasti akan berusaha agar Bahal Batu selamat, kalau dia pergi mereka tidak peduli.
Sebentar kemudian ia berkata lagi: “Laki-laki itu seperti burung yang tidak bisa dijaga, pada malam hari mereka pergi.” – Walaupun demikian cara pikirannya kami tetap menasihatkan kedua saudara Metzler agar tetap di Bahal Batu karena jelas bahwa orang itu akan sangat keberatan kalau mereka pergi, dan juga karena kami percaya keadaan masih agak aman.
Namun demikian desas-desus tetap ada dan ketidakpastian sangat meresahkan penduduk. Sebagian besar orang kafir memutuskan untuk bersikap netral dan beberapa di antara mengatakan [367] akan berpihak pada pihak mana yang menang, dan kalau perlu masuk Islam asal mereka dan hartanya selamat.
Hal mana, demikian penjelasannya, juga dilakukan oleh Mangkali Bonar dari Sigompulan pada masa perang Padri dan ternyata ia menjadi kaya dan terkenal. Pendapat yang sedemikian menjadi makin populer apalagi karena orang-orang tua masih mengingat cerita orang tuanya bahwa orang Batak bersaudara dengan, dan pernah membayar upeti kepada Aceh dan Inggris.[9] Sampai sekarang pun orang masih memanjatkan doa kepada Soripada di Anse. [10] Maka dengan demikian mereka sudah membiasakan diri bakalan berada di bawah kekuasaan Aceh. Waktu itu pemerintah begitu baik hati untuk mengirim 50 bedil lengkap dengan amunisi bagi umat Kristen supaya mereka bisa membela diri kalau diserang.
Minggu demi minggu berlalu namun keadaan tidak membaik juga. Lalu tiba berita bahwa beberapa utusan Kontrolir Asahan dalam perjalanan ke sini tewas dibunuh di Huta ni Tingkir, berjarak hanya satu hari berjalan kaki dari Bahal Batu. Peristiwa itu dan hubungan antara Padang Bolak dan Huta Tinggi Simamora menunjuk pada rencana Aceh yang lebih luas. Lagi pula kelompok 40 orang Aceh ternyata dipimpin oleh Willem Daut, anak seorang perempuan Eropa, dan Said Muhamed, pemberontak dan Muslim fanatik, yang dulu sudah pernah mengancam Singkel.
Oleh sebab itu maka kami merasakan perlu untuk meminta agar pemerintah menunjukkan kekuatan militernya. Pemerintah yang telah mewaspadai gerombolan itu dari Barus dan Singkil, dan sama dengan kami tidak menginginkan orang Aceh menetap di Toba, ternyata sudah mengirim pasukannya. Pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevel sudah berangkat pada 1 Februari ketika permintaan [untuk mengirim tentara] kami sampaikan dari sini. Pada tanggal 6 Februari sekitar jam 10:00 pasukan tiba di Pearaja. Kontrolir van Hoevel dan Upas [11] [368] Bartolemy bermalam di tempat kami, laki-laki yang lain tinggal bersama tentara.
Rumah di kampungnya Obaja [12] sudah disediakan untuk tentara dan dilengkapi dengan tikar. Kayu api disediakan oleh anak buah Obaja. Para perwira tinggal di pusat kampung di antara tentara, di rumahnya Jesaia supaya dekat tentara kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi. Soalnya ada beberapa raja yang pada acara musyawarah berbicara blak-blakan, dan raja yang lain malahan tidak menghadiri musyawarah karena mereka pikir: Tidak ada seorang yang berhak menyuruh kami. Seusai musyawarah dan setelah upacara penaikan bendera Belanda maka tentara masuk ke Sipoholon, kampung yang letaknya dekat dengan pos zending. Di situ pun diadakan musyawarah dan maksud kedatangan tentara dijelaskan kepada para raja, dan sesudah dilakukan pengamatan maka diputuskan pergi ke Bahal Batu.
Waktu itu tiba surat dari Singamangaraja [13] membalas surat Residen. Katanya dia tidak datang karena ada tentara tetapi bersedia bertemu dengan saya di Pintu Bosi [14] dengan syarat saya tidak ditemani lebih dari dua orang. Permintaannya ditolak oleh Kontrolir. Katanya karena ia sudah berjalan jauh dari Sibolga maka pantas Singamangaraja datang ke Bahal Batu. Ketika Singamangaraja menerima surat balasan Kontrolir ia hendak memakan pembawa surat itu, namun hal itu tidak mungkin karena pembawa surat itu masih semarga dengannya. Maka surat itu dirobek-robek dan mereka tidak membalasnya sehingga putuslah perundingannya.
Sementara itu tiba kabar dari Sibolga bahwa tentara dikirim ke Bahal Batu. Tidak lama kemudian tentara naik dan sesudah beberapa hari raja-raja dari Balige membawa kabar soal perobekan surat [369] serta pengumuman perang asli Batak yang dinamakan pulas.
Pulas itu terdiri dari sebuah kentang yang agak panjang [15] yang diukir hingga menyerupai manusia dan ditusuk dengan beberapa lembing kecil dan disertai tiga surat bambu dengan kata-kata cercaan dan hasutan serta sebuah sumbu yang bekas disulut. Pulas itu digantungkan pada pintu kampung lalu terdengar beberapa kali tembakan.
Hal itu terjadi pada malam hari sehingga tidak jelas apakah orang yang namanya tertera pada surat tadi memang menggantungkan pengumuman perang itu ataukah sebaliknya musuh mereka yang melakukannya. Orang yang namanya tertera pada pulas itu adalah teman dari orang yang memanggil orang Aceh, namun menurut hasil penyelidikan di kemudian hari mereka ternyata tidak bersalah dan menjadi korban tipu muslihat musuh mereka. Dengan demikian tetap tidak jelas pengumuman perang itu berasal dari pihak mana.
Beberapa hari kemudian seorang raja dari Lobu Siregar datang dan mengatakan bahwa pada keesokan hari orang Toba akan menyerang benteng pertahanan tempat tinggalnya tentara. Sekitar 600 orang Toba datang dan sudah mulai menembak dan berteriak ketika mereka masih jauh dari benteng. Ketika mereka lebih dekat kami dihujani peluru. Ketika berada pada jarak sekitar 200m mereka menjerit secara mengerikan sambil menembak dan bertari perang; di situlah Kapten memberi aba-aba untuk mulai menembak serta meniupkan trompet yang menghasilkan bunyi yang amat hebat. Orang Batak berdiam sejenak lalu lari. Mereka berkumpul di luar jangkauan peluru di atas bukit-bukit sampai ada granat yang meledak (yang mendarat jauh di belakang mereka) yang mengakibatkan mereka mundur. Sepertinya pada hari itu tidak ada yang cedera. Pada penyerangan kedua dan ketiga [370] ada beberapa orang Toba yang cedera, dan ada juga yang mati namun jumlahnya susah ditentukan.
Pada awalnya kami tinggal di pos zending, juga sesudah pengumuman perang, tetapi sesudah beberapa hari kami terpaksa meninggalkan pos zending dan dengan membawa harta benda kami pindah ke benteng.
Sesudah Residen Boyle bersama Kolonel Engel naik ke sini bersama dengan 200 pasukan lagi maka kami mulai menyerang. Yang pertama diserang adalah Butar dan orang Batak lari semua. Di pihak pasukan ada seorang yang tewas; lima kampung dibakar. Atas nasihat kami, kampung-kampung yang lain mengibarkan bendera putih dan menyerah maka kampungnya tidak dibumihanguskan. Sekitar 50–60 kampung di Butar yang tidak dibakar namun raja-rajanya ditahan di Bahal Batu sampai mereka membayar denda yang ditetapkan oleh Residen Boyle. Sesudah beberapa hari Lobu Siregar diserang. Setelah bertempur selama 1½–2 jam lima kampung dibakar. Kampung pertama sudah dikosongkan namun makan waktu 1 jam sebelum pasukan bisa masuk karena begitu kokoh pertahanannya.
Pada hari-hari pasukan tidak melakukan penyerangan sekitar 300 kampung di sekitarnya diambil sumpah setia. Raja-rajanya datang ke Bahal Batu untuk menyatakan bahwa mereka menyerah. Mereka harus bersumpah 1) bahwa mereka tidak pernah melakukan tindakan memusuhi pemerintah, 2) mengakui kekuasaan pemerintah, 3) berjanji tidak akan memusuhi pemerintah atau rakyat yang berada di bawah kekuasaan pemerintah, dan 4) melarang orang melakukan tindakan melawan pemerintah di dalam wilayahnya. Silindung bersama Sipoholon dan Bahal Batu dan juga Pagar Sinondi bersumpah setia pada pemerintah dengan menjanjikan bahwa mereka sebagai rakyat setia akan melaksanakan perintah pemerintah dan kaki tangannya. Bagi mereka yang pernah melawan [371] tentara maka bunyi sumpah tentu berbeda.
Setelah acara sumpah setia masih ada enam kampung di Naga Saribu yang menolak untuk menyerah. Pagi-pagi keesokan hari kami berangkat dari Bahal Batu melewati ujung timur laut Butar dan tiba di Naga Saribu pada sekitar jam 11:30. Penduduk keenam kampung tidak mengadakan perlawanan karena sadar bahwa hal itu akan sia-sia. Ternyata mereka percaya bahwa tidak mungkin tentara bisa sampai ke kampungnya dalam tempo satu hari, dan di samping itu mereka juga berharap bahwa pemerintah tidak akan datang hanya gara-gara enam kampung mengingat bahwa kebanyakan kampung sudah menyerah dan membayar denda. Ketika mereka menyadari bahwa kampung-kampung lain selamat maka mereka sangat menyesal, tetapi terlambat sudah.
Dengan sangat lelah kami tiba kembali di Bahal Batu pada jam 19:30. Sebagai misionaris kami memang tidak perlu memikul senjata dan perbekalan akan tetapi tugas kami tidak lebih ringan dibanding tugas serdadu. Pada waktu tentara istirahat –ketika pembakaran berlangsung– kami harus berjalan dari kampung ke kampung di sekitar Naga Saribu untuk mendatangi raja-raja yang sudah tunduk tetapi belum melunasi denda. Harinya panas dan kering. Pasir diterbangkan angin sehingga mata menjadi perih. Menjelang malam, ketika kami masih harus menempuh jalan selama 2½ jam lagi, hawa berubah menjadi dingin lalu turun hujan disertai halilintar dan gemuruh sehingga kami basah kuyup.
Lalu ada berita dari Padang akan ada pasukan tambahan sebanyak 300 tentara dan 100 narapidana karena pemerintah bermaksud untuk maju sampai ke Danau Toba untuk mendenda mereka yang datang menyerang dari jauh. Hal itu memang perlu karena sewaktu dilakukan persiapan ekspedisi ke Toba datang pula orang Toba dari Balige, Gurgur, Si Anjur dan lain-lain tempat untuk sekali lagi menyerang Bahal Batu. Kali ini Kolonel tidak menunggui orang Batak di benteng, melainkan menyuruh pasukannya menyerang dan [372] berkubu di balik sebuah bukit.
Orang Toba tidak berani mendekat karena mereka melihat bahwa di bukit sebelah utara dari kampung Partaon Angin berkumpul ratusan orang Batak yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ketika tentara melepaskan tembakan dan mencederai seorang di antara mereka maka mereka langsung lari karena takut akan dikejar tentara dan tidak sempat untuk menyeberang sungai Aek Simokmok. Orang Bahal Batu memang mengejar orang Toba sampai ke sana dan menembak mati seorang.
Sesudah semua pasukan tiba dari Sibolga maka tanggal 30 April kami berangkat ke Bangkara. Pada hari pertama kami berjalan kaki sampai ke Lintong ni Huta dan Si Hombing. Negeri itu yang terdiri atas sekitar 70 kampung sudah bersumpah setia di Bahal Batu. Keesokan harinya kami meneruskan perjalanan ke Bangkara. Ketika kami berjarak 15 menit dari Lintong ni Huta kami bertemu dengan Ompu ni Chordopang [16] dari Bangkara, raja yang memanggil orang Aceh. Ia berpura-pura seolah-olah menjadi sahabat lama. Karena saya berjalan paling depan dan saya langsung mengenalnya maka saya melaporkannya kepada Residen. Lalu dia ditangkap. Ketika kami mendekati tebing terlihat lembah Bangkara yang indah. Pemandangan yang menakjubkan! Jalannya menurun tajam ke lembah yang terletak 550–600 meter di bawah. Ketika kami tiba di kompleks kampung yang salah satu di antaranya adalah kampungnya Singamangaraja maka setengah lusin granat ditembakkan dari atas namun jaraknya terlalu jauh sehingga tidak sampai jatuh di kampung. Lalu kami turun. Tiba di bawah, kami melihat pertahanan kampung ternyata kokoh sekali. Setiap kampung dikelilingi tembok setinggi 4 meter yang terbuat dari batu besar. Tembok itu begitu kokoh dan terjal sehingga orang bisa kagum melihat kesabaran mereka membuat tembok. Di atas [373] tembok tumbuh tanaman rambat yang berduri yang tidak dapat dipegang dengan tangan telanjang.
Penduduk kampung-kampung itu melawan dengan gigih dan serdadu yang berusaha memanjat tembok dilempari dengan batu sehingga jatuh berguling. Dari atas kami bisa melihat kejadian di kampung dengan sangat jelas. Ternyata mereka membela kampungnya dengan berani dan tidak ada suatu tindakan pun yang dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga tampak jelas bahwa mereka tidak takut. Seorang serdadu tewas ketika peluru kena kepalanya, dan beberapa lagi cedera. Sekitar jam 3 sore kampung-kampung itu sudah di tangan kami. 10–12 laki-laki dan sekitar 70 perempuan jatuh ke tangan kami lalu ditawan.
Tentara menempati empat dan kami bersama orang dari Silindung [17] satu kampung. Kampung-kampung yang lain ditempati oleh mereka dari Bahal Batu, Butar, dan dari lain tempat di Toba. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang ditangkap, diserahkan kepada kami. Anak-anak dan perempuan ditahan di sebuah rumah besar dan laki-laki di rumah yang satu lagi. Kami menghibur mereka dan berbuat baik kepada mereka sehingga mereka cepat menaruh kepercayaan pada kami dan mereka tenang-tenang saja dan tidak berusaha untuk melarikan diri. Mereka ditahan selama dua hari dua malam karena Residen ingin mengetahui apa di antaranya ada istri dari raja-raja yang terkemuka. Maksudnya supaya meyakinkan para raja melalui istrinya agar mereka mau menyerah.
Keesokan hari serdadu berangkat pagi-pagi sekali untuk menaklukkan kampung-kampung lainnya yang berjumlah sekitar 30-40 kampung yang langsung dibakar. Bapak Residen meminta bantuan saya untuk mendampinginya. Tugas saya untuk berbicara dengan para raja yang ingin menyerah dan untuk membawa mereka kepadanya. Namun ketika api mulai berkobar di kampung-kampung yang paling dekat maka penduduk berlari-lari kepanikan berusaha memanjat tebing bukit yang tingginya sekitar 550 meter. [374]
Jerit-tangis laki-laki, perempuan, anak-anak, kakek-kakek dan nenek-nenek bergema di seluruh lembah. Lalu saya menghampiri Kapten van Berg, seorang yang dihormati dan ayah sembilan anak, dan memintanya agar jangan terlalu cepat membakar kampung supaya saya sempat berbicara dengan para raja dan meyakinkan mereka supaya menyerah dan tunduk pada Belanda. Bersama dengan beberapa orang yang kenal dengan penduduk kampung saya mengejar mereka yang memanjat tebing – hal mana berlangsung dengan sangat lambat karena banyaknya anak-anak dan orang-orang yang sudah tua. Kepala raja yang mengibarkan bendera putih berteriak “Patu ma hami!” (Kami menyerah!). Ketika melihat saya ia turun menghampiri saya dan lalu bersedia untuk dibawa kepada Kapten. Waktunya memang sudah mendesak karena kampungnya sudah dikepung tentara dan orang Batak yang suka merampas sudah mulai mengangkat padi agar tidak hangus, dan juga sudah mulai memotong ternak babi. Lalu saya beritahu kepada Kapten bahwa raja itu hendak menyerah. Ketika para serdadu pergi maka jerit-tangis semakin berkurang. Raja yang masih sangat muda itu lalu dijaga oleh tentara dan saya menyuruh Si Daut, seorang Kristen, untuk mendampinginya. Habis itu saya pergi ke kompleks kampung yang lain lagi, tetapi penduduk sudah naik ke atas dan kampung-kampung mereka dibakar semua. Saya berjalan terus dan bertemu beberapa orang yang bersedia untuk memanggil rajanya. Karena mereka langsung datang masih ada waktu untuk meyakinkan mereka agar mau tunduk pada pemerintah sebelum tentara datang. Sesudah para raja itu saya serahkan kepada Kapten saya meneruskan perjalanan dan kampung mereka tidak dibakar. Ketika kami tiba di atas bukit kami melihat sungai yang deras yang tidak sangat dalam, tetapi cukup dalam untuk menghalang kami karena arus yang deras. Para serdadu juga sudah lelah seusai melewati [375] sawah-sawah [18] di terik matahari maka kami istirahat dulu.
Lalu kami melihat penginjil Simoneit yang di seberang sungai menyemaikan bibit perdamaian. Beberapa orang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Kapten menyuruh seorang Silindung untuk mengantar sepucuk surat kepada Kolonel meminta instruksi lanjutan. Kolonel lalu memerintah pasukannya untuk kembali karena kampung-kampung di ujung selatan lembah Bangkara juga sudah menyerah.
Raja itu didenda dan diwajibkan melunasi dendanya dalam tempo 24 jam. Pada hari ketiga para raja harus bersumpah agar tunduk pada pemerintah dan semua tawanan dilepaskan. Pada hari keempat kami meninggalkan Bangkara sesudah kampung-kampung yang kami tempati dibakar oleh serdadu.
Makan waktu sangat lama hingga semua tentara berikut perlengkapannya sampai di dataran tinggi. Para narapidana harus pergi dua kali karena 20–30 kuli yang ketinggalan. Peluh bercucuran dari mendaki tebing yang terjal sehingga kami menjadi basah. Karena cuaca di atas jauh lebih dingin maka Simoneit dan saya tidak mau duduk-duduk kedinginan. Kami jalan-jalan arah ke utara untuk bisa melihat Danau Toba dari berbagai sudut pandang. Setelah kami berjalan sekitar satu jam dan sudah jauh dari pasukan maka kami melihat sekelompok orang bersenjata menuju kami. Di antara kami dan mereka ada lembah yang lumayan dalam. Mereka mempercepat langkah untuk bisa menyergap kami dan kami memutuskan untuk selekasnya kembali. Ternyata mereka bukan pemberani karena mereka mendaki bukit dengan sangat lambat. Di atas bukit itu ada bekas kubu tempat kami tadi berdiri untuk menikmati pemandangan. Sewaktu kami sudah agak jauh baru mereka berani naik ke kubu itu.
Sementara itu pasukan sudah siap untuk berangkat, dan setiba kami di sana kami langsung bergerak arah ke timur. [376]
Melintasi wilayah Lintong ni Huta kami berjalan ke Paranginan. Di sepanjang jalan itu dipasang bambu runcing yang pasti dilakukan pada hari sebelumnya. Ternyata mereka mau menghalang kami namun ketika kami datang mereka tampak ketakutan. Hanya satu dua di antara mereka nekad menodongkan laras senjata kepada kami. Mereka kaget mendengar kami berbahasa Batak. Mereka lebih kaget lagi melihat di antara kami orang Silindung yang mereka kenal. Orang Silindung itu segera menghadangnya lalu menepiskan laras bedilnya.
Lalu kami meneruskan perjalanan ke kampung Ompuraja Hain. Beliau tidak ada karena sedang bermusyawarah dengan raja-raja lain di pasar. Rupanya mereka tidak duga kami datang begitu cepat sehingga mereka tidak sempat untuk bersekutu dan mengadakan perlawanan. Kami tinggal di Paranginan selama beberapa hari. Para raja harus melakukan sumpah setia dan sesudah mereka melihat bahwa kami tidak melukai atau merugikan mereka maka mereka mulai menaruh kepercayaan pada kami.
Dari Paranginan kami meneruskan perjalanan ke Huta Ginjang. Di sini pun orang Batak berusaha menghalangi kami dengan menggali lubang di tengah jalan yang di dalamnya mereka pasang ranjau duri. Rupanya mereka kira kami datang pada malam hari hal mana sering mereka lakukan. Di Huta Ginjang kami berhenti di pasar untuk berbicara dengan para raja, kemudian kami turun ke Meat, sebuah lembah seperti Bangkara tetapi lebih kecil. Orang Meat menyerah dan perjalanan diteruskan ke Gurgur.
Jalan ke Gurgur terjal sekitar 550-600 meter lebih tinggi – hampir sama keadaan seperti di Bangkara. Orang Batak sudah berkumpul di atas dan menggulingkan batu arah ke tentara. Di sinilah paling besar kerugian tentara. [377]
Di pihak kami dua yang meninggal dan 12 yang cedera. Sesudah beberapa serdadu berhasil naik ke atas mereka lari. Kami istirahat selama dua hari di Gurgur dan raja-raja di Huta Ginjang, Meat dan Tangga Batu diwajibkan melakukan sumpah setia pada Belanda. Pada hari ketiga pasukan menuju Lintong ni Huta Pohan, Panghodia, dan Tara Bunga. Hampir semua kampung di Gurgur dibakar karena membiarkan musuh menembaki kami di wilayahnya sementara mereka berpura-pura menjadi sahabat dan mengatakan takluk pada kami dan menjadi pemandu jalan kami. Namun setelah kami sampai di atas, mereka tidak kelihatan lagi. Rupanya mereka yakin tentara tidak mungkin naik ke atas melainkan harus berjalan kembali. Setelah itu mereka berencana agar semua bangkit [melawan Belanda]. Namun sekarang, ketika mereka lihat bahwa teman-temannya lari mereka menjadi ketakutan.
Setelah pembakaran diselesaikan kami menuju Lintong ni Huta. Orang Batak sudah berkumpul di situ dan keluar dari persembunyiannya menyerang kami dengan menembak, menjerit, dan menari. Ketika berjarak sekitar 250 m tentara menyerang dan mereka lari bersembunyi di kampung-kampung. Setelah beberapa granat ditembakkan ke arah kampung-kampung itu mereka lari menurun tebing ke pantai danau dan menyelamatkan diri naik perahu. Tentara tetap menembaki mereka dan salah satu perahu kena peluru sehingga orang yang duduk di dalam terpaksa lompat ke air dan berenang ke darat. Lalu kampungnya dibakar. Hanya beberapa kampung tidak dibakar karena beberapa anak raja dari Tangga Batu yang sudah takluk minta kepada residen agar kampung-kampung itu tidak dibakar karena mereka memiliki rumah di situ. Sewaktu tentara sibuk membakar, sejumlah orang Batak, orang Silindung, orang Bahal Batu, orang Butar, [378] orang Gohan [19] terjun ke ladang dan kembali dengan mengiring kerbau, lembu, dan kuda keluar dari tempat persembunyiannya ke arah tentara.
Sementara Residen dan Kolonel mendatangi kampung-kampung di tanjung Tara Bunga bersama dengan tentara maka saya bersama penginjil Simoneit tetap di sini, di jalan menuju Balige. Di sinilah tampaknya kekejaman perang. Di mana-mana terlihat kampung yang hangus masih berasap yang penghuninya bersembunyi di jurang-jurang pegunungan dan langsung lari apabila ada yang mendekati persembunyiannya. Itulah saat yang paling menyedihkan bagi kami yang datang sebagai utusan damai dan sekarang kami harus melihat bagaimana penduduk diusir dari rumahnya.
Ketika kami sampai kami disambut raja Balige yang dua tahun yang lalu menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Katanya ia mau tunduk bersama dengan 60 kampungnya. Waktu kami di Gurgur dia datang ke sana meminta agar kami menyampaikan kepada Residen permohonannya agar wilayahnya tidak diganggu namun karena Residen saat itu sangat marah karena kerugian yang dideritanya di Gurgur maka kami tidak menyampaikan permohonan itu. Akhirnya Residen menerima penundukannya akan tetapi menjadi agak jengkel ketika kami mendapatkan pintu kampung-kampung pertama dalam keadaan tertutup rapat. Sesudah itu kami membawanya keliling selama kira-kira satu jam sampai pada pinggir danau di pasar Balige, dan ia puas karena pintu kampung di sana terbuka semua. Serdadu yang datang 30 menit kemudian langsung mandi sampai ke lutut di danau karena harinya sangat panas, dan kawasan pinggir danau termasuk Bangkara, Unte Mungkur, Muara, Meat, Balige dll. berhawa panas karena rendah letaknya. Tiga kampung dipilih sebagai tempat tentara dan setelah mereka merasa nyaman di tempat barunya semua terjun ke danau untuk mandi. Pertama kali di Danau Toba kata mereka semua. Banyak di antaranya mengungkapkan perasaan jengkelnya bahwa bangsa kafir yang jorok itu memiliki bagian dunia yang begitu indah. [20] [379]
Pada malam hari sekitar jam 7 terdengar suara tembakan. Dikatakan seorang musuh, Raja Deang, datang dan mereka menyerang sebuah kampung yang sudah takluk kepada pemerintah. Pada keesokan hari tentara berangkat tetapi saya tidak ikut karena merasa pening dan karena bagaimana pun hanya ada acara berperang dan membakar kampung. Pada hari itu sekitar 50–60 kampung dibakar. Awalnya musuh melawan dengan gigih tetapi akhirnya lari juga. Menjelang siang saya berjalan sekitar satu jam arah ke timur. Di tempat itu Raja Deang mendirikan kubu dan pertempuran berlangsung. Di Lumban Atas, Paninduan, saya duduk di bawah pohon besar dan menonton hiruk-pikuk manusia. Orang dari Balige dan Paninduan pergi untuk menjarah kampung-kampung yang dibakar. pada sore hari sekitar jam 3 pasukan kembali dan pada jam 5 sore datanglah perahu Ompu ni Pardopur dan Ompu ni Binsara dengan membawa orang Aceh yang terjepit dan bersengketa di tanjung. Mereka menyerahkan diri kepada Residen. Setelah senjatanya dirampas mereka dijebloskan di sebuah rumah dan dijaga. Pada keesokan hari raja-raja yang menyatakan diri takluk didenda dan diambil sumpah setia. Karena mereka tidak begitu cepat bisa mengumpulkan uang untuk membayar denda maka mereka dibawa ke Bahal Batu untuk di kemudian hari ditebus oleh keluarganya. Pada hari keempat kami berjalan ke Onan Geang-Geang tempat tinggal mertua Singamangaraja. Kampung-kampung di sana pun dibakar karena penduduknya mengungsi. Masih pada hari yang sama kami pergi ke Pintu Bosi yang kampungnya besar-besar. Di sini pun penduduk mengungsi sehingga kampung-kampung mereka dibakar. Parik Sabungan, yang dekat dengan Pintu Bosi, menyerah, didenda, dan [raja-rajanya] dibawa ke Bahal Batu untuk diambil sumpahnya. Perjalanan kami lewat Lobu Siregar dan pada jam lima sore kami tiba di Bahal Batu. [380]
Ekspedisi telah selesai. Tiada yang merasa lebih lega daripada saya. Namun saya masih harus tinggal di Bahal Batu selama delapan hari lagi untuk membantu Residen sebagai penerjemah. Berangsur-angsur tentara kembali, dan tentu lewat Pearaja untuk singgah di gereja kita. Saya sangat menyesal tidak bisa berada di rumah membantu istri saya dalam masa yang kacau seperti ini. Namun dengan bantuan Tuhan mereka semua selamat dan sehat sentosa. Pada hari sesudah kami tiba diadakan musyawarah umum di Sipoholon. Para raja diberi tahu bahwa wilayah mereka telah dimasukkan ke dalam wilayah Hindia-Belanda. Mereka diharuskan bersumpah setia dan diperingatkan bahwa mereka harus mematuhi perintah Kontrolir. Di Sipoholon, sekitar setengah jam di atas pos penginjil Mohri, dibangun benteng tempat tinggalnya 80 tentara yang akan menetap di sini. Rumah Kontrolir Pluggers membangun rumah di dekat Pearaja dalam jarak sekitar 20 menit dari sini. Seluruh 306 kampung di Silindung telah tunduk pada pemerintah dan kini mereka sudah mulai membangun jalan ke Sibolga. Untuk itu setiap kampung harus menyediakan satu orang. Kontrolir adalah orang yang rajin dan cukup diberi kesempatan untuk menunjukkan kecakapannya karena begitu banyak perselisihan yang harus diselesaikannya.
Perang sudah berakhir dan kami meneruskan pekerjaan sehari-hari dengan semangat baru. Hasil dari ekspedisi sangat menguntungkan pemerintah. Boleh dikatakan seluruh Toba ditaklukkan, dan hanya di Toba Humbang [21] masih diperlukan beberapa wakil pemerintah untuk menetapkan pemerintahan di sana. Namun hal itu tidak terjadi karena pemerintah tidak tertarik akan Toba Humbang. Mereka terlalu repot menghadapi Aceh. Untuk zending kita pun bagus begitu karena kami kurang tenaga untuk menempatkan cukup banyak penginjil sehingga kami malahan bisa didahului Islam. Sekarang kami punya cukup waktu untuk menggarap Silindung dulu sebelum kami masuk ke Toba dalam waktu beberapa tahun mendatang.
Pemerintah tidak akan melarang karena orang Toba [381] akan makin dekat dengan pemerintah sehingga kita tidak perlu khawatir. Sekarang kita harus bersiap-siap mengerahkan tenaga maupun dana sehingga, bila waktunya datang, kita bisa menuruti petunjuk Tuhan.
Sejak Silindung menjadi wilayah Hindia-Belanda dan perang telah berakhir maka datanglah ratusan orang Toba berbondong-bondong kemari. Banyak orang berimigrasi ke sini termasuk di antaranya mereka yang kehilangan rumah yang dibakar tentara, dan banyak lagi yang akan datang. Dengan demikian maka injil pun akan lebih diketahui di Toba Humbang. Sekarang saja, karena keadaan di Toba, pengaruh kita sudah mulai terasa di sana. Semoga Singamangaraja pun mau datang untuk menyerah dan tunduk pada pemerintah.
Tidak lama lagi terbukalah lahan yang sangat luas. Tenaga dan dana perlu digandakan untuk, sebagai contoh, membuka pos penginjilan di Balige karena di Deli misi Katolik sudah mulai beroperasi, dan mereka sudah menjelajah sampai ke Bila. Belum tentu mereka langsung ke Balige karena masih berada jauh di utara, namun semboyan kita harus tetap: Maju! Di Silindung sudah banyak yang mendaftar mau menjadi Kristen, kian hari kian banyak orang, namun berapa di antaranya yang bersungguh-sungguh hanya akan diketahui di kemudian hari. Kami senang bahwa paling tidak mereka bisa mendengar berita yang baik namun dalam musim pancaroba seperti ini kesungguhan mereka masih perlu dipertanyakan. Banyak yang datang karena mereka kira kami akan membantu mereka sebagai penengah dalam perkara pengadilan. Masalah yang sama yang dulu dihadapi penginjil di Sipirok kini kami hadapi di sini. Hanya kami di sini lebih beruntung karena agama Islam belum ada dan agama Kristen sudah berakar di sini. Dapat diharapkan dalam dasawarsa yang akan datang seluruh Silindung menganut agama Kristen.
CATATAN

[1] Menurut kepercayaan orang Batak Iskandar Agung (Raja Yunani dari tahun 336–323 SM) mempunyai tiga anak. Anak yang pertama menjadi Raja Stambul (juga disebut Raja Rum), anak kedua menjadi Raja Cina, dan anak ketiga menjadi Raja Minangkabau. Stambul adalah Istanbul (Konstantinopel) yang pernah menjadi ibu kota kerajaan Roma (=Rum). Pada abad ke-19 Istanbul menjadi ibu kotaKekaisaran Turki Ottoman.
[2] Yang dimaksud di sini mungkin bahwa Turki akan datang dengan pasukannya untuk mengusir orang Belanda dari Indonesia.
[3] Pada saat itu tengah berlangsung Perang Rusia-Turki (1877– 1878).
[4] Pusat pemerintah saat itu di Sibolga.
[5] Hal ini tentu merujuk pada Perang Padri (1821-1837). Pusatnya kaum Padri di kampung Bonjol (Sumatra Barat).
[6] Singamangaraja X dibunuh pada tahun 1830 oleh kaum Padri.
[7] Yang dimaksud dengan orang Bonjol adalah para Padri.
[8] Sibolga, Barus, dan Singkel merupakan pusat pemerintahan Belanda di pantai barat Sumatra bagian utara. Singkel pada tahun 1873 tersambung kabel telegram.
[9] Secara formal sebagian pulau Sumatra berada di bawah kekuasaan Britania Raya. Dengan Perjanjian London (1824) Inggris dengan terpaksa melepas wilayah ini yang kemudian jatuh kepada Belanda.
[10] ‘Anse’ dalam bahasa Batak diucapkan Atse atau Ace[h]. Kata Soripada berasal dari bahasa Sanskerta sri pati.
[11] Upas, dari bahasa Belanda Opzier ‘Pengawas’ adalah semacam polisi pribumi.
[12] Obaja (Raja Pontas Lumban Tobing) adalah orang Batak pertama yang dibaptis dan sering menemani para penginjil dalam perjalanannya. Pada tahun 1873 ia mendampingi Heine, Johannsen, dan Mohri ke Danau Toba (lihat BRMG 1882 (7), hal. 198-202)
[13] Tertulis: “Singa Maharaja”
[14] Tertulis: Pitu Bosi
[15] Yang dimaksud di sini ubi rambat yang dalam bahasa Batak disebut gadong.
[16] Agaknya salah ketik untuk Ompu ni Mardopang
[17] Pasukan tambahan yang dipersenjatai Belanda.
[18] “Reisfelder” bisa merujuk kepada sawah atau ladang yang ditanami padi.
[19] Yang dimaksud barangkali Pohan.
[20] Kata schmierig yang digunakan di sini berarti, secara harfiah, ‘licin’. Kalau digunakan untuk orang, schmierig bisa berarti jorok, tetapi juga licik, dan tak senonoh.
[21] Hochtoba ‘Toba Tinggi’ adalah sebuah dataran tinggi yang terletak arah barat daya dari Danau Toba dengan ketinggian rata-rata 1100m. Arah ke barat dari dataran tinggi itu terletak pegunungan yang tertutup dengan hutan rimba.

%d bloggers like this: