Cerita tentang bapakku (part 1)


Ini cerita yang kususun berdasarkan deskripsi orang-orang di sekitar bapak saat menjelang dia meninggal.

Terpuji Nama Tuhan yang telah memberikan bapak hidup yang begitu berarti bagi banyak orang. Hal ini kulihat melalui begitu banyak orang yang merasakan kehilangan bapak saat dia meninggal. Bukan hanya kami yang bersedih tetapi mereka para keluarga Silitonga se-Pontianak, para keluarga Simanjuntak se-Pontianak, dan gereja HKBP, juga merasa kehilangan. Semua ini adalah kesaksian yang menghiburkan kami karena orang-orang tersebut sama seperti kami juga kehilangan sebuah figur pelindung yang ramah, baik dan rajin.
Pada akhir April aku mendapat tugas dari kantor ke Pontianak. Ini kudapatkan oleh karena kebaikan pimpinan kantor aku. Dan tidak kusadari, itulah terakhir kalinya aku akan bertemu dengan bapak. Pada saat itu adalah minggu passion menjelang paskah. Oleh karena kesibukan di kantor perwakilan, aku tidak bisa menghantarkan bapak bertugas pelayanan gereja. Memang saat itu sudah kulihat bapak sudah sangat kurusan oleh sakit jantungnya. Selain itu kata mama, bapak sudah beberapa hari sulit tidur oleh karena dadanya merasa sesak apabila dia tidur terlentang.
Tapi oleh karena semangatnya untuk pelayanan, tidak bisa kami larang bapak untuk pelayanan passion. Hari senin dan selasa, bapak dan mama berangkat passion. Bahkan pada hari rabu ketika amang pendeta memintanya untuk berkhotbah, dia langsung setuju. Akan tetapi saat itu aku tidak bisa menghantarnya oleh karena kesibukan tugas. Malamnya kudapat cerita dari mama kalau bapak terlalu memaksakan diri untuk pelayanan gereja. Akhirnya pada har kamis, mama bersikeras agar bapak tidak ikut passion agar bisa besok jumatnya kami ke gereja merayakan Jumat Agung. Selama di pontianak, apabila ke gereja memang akulah yang membawakan motor. Tapi saat itu tidak kusadari kalau itulah pelayanan terakhirku untuk bapak. Selama berkendara motor, bapak selalu memperhatikanku. Dia selalu bertanya apakah aku akan masuk angin atau semacam itu dan kujawab agar bapak tenang-tenang saja.
Kemudian pada jumat malam, bapak mengeluh sakit punggungnya. Kuurut punggungnya sebentar dan setelah itu kami bercerita-cerita lama sebelum tidur. Salah satunya adalah cerita mengenai cicit Sisingamangaraja XII. Pada saat itu kalau tidak salah aku membukakan bapak halaman web mengenai cerita cicit Sisingamangaraja XII tersebut. Dia membacanya dan membenarkan kalau bapak mengenal orangtua laki-laki dari cicit Sisingamangaraja XII itu. Bapak bernostalgia kalau pada saat peringatan 50 tahun Sisingamangaraja XII meninggal, bapak adalah salah satu sekretaris di panitia peringatan kota Pontianak. Bapak bilang dia masih menyimpan cap kerajaan Batak dan bendera kerajaan yang disiapkan panitia. Masih banyak lagi yang kami perbincangkan disitu, tapi yang paling kuingat adalah mengenai hal ini.
Pada sabtu subuh, bapak tiba-tiba mengeluh sesak di dada. Mama menelepon lae Simangunsong (bp duli) untuk dihantar ke rumkit Santo Antonius. Paginya aku dan adikku ester berangkat ke rumkit menggantikan mama untuk menjaga bapak. Inilah serangan pertama, akan tetapi saat itu kami satupun tidak menyadarinya. Sejauh yang kami ketahui dari sejarah sakit bapak, bapak tidak pernah mengeluhkan sakit apa-apa, hanya gampang lelah dan pegal-pegal di punggung. Memang sejak pertama kali diagnosis oleh dokter taswin, salah satu dokter jantung di rumkit soedarso, bapak dibilang mengidap sakit jantung. Akan tetapi pak dokter tidak pernah/belum menyarankan tindakan, hanya memberikan obat-obatan saja. Akhirnya kami pun mengganti dokter dengan alasan untuk second opinion, yaitu dokter betty (yang kusadari saat ini seharusnya bapak sejak awal berkonsultasi saja dengan dokter betty). Diagnosa dari dokter betty, bapak mengalami pengapuran katup jantung dan harus segera diambil tindakan operasi di jakarta. Dokter betty juga bilang kalau kondisi bapak sudah bisa dirawat jalan tapi beberapa hari masih harus istirahat total di rumkit. Kamipun memindahkan bapak ke rumkit Soedarso agar bisa lebih dekat rumah, mengingat ester yang sedang sekolah.
Aku masih beberapa hari lagi di pontianak. Tiket pulang ke jakarta pada hari minggu kubatalkan dan kupindahkan ke hari selasa, melihat kondisi bapak yang semakin membaik. Selama di rumkit, baik di rumkit Santo Antonius maupun rumkit Soedarso, aku yang menjaga bapak. Pada hari selasa siang, aku pamitan dengan bapak dan mama untuk berangkat ke jakarta. Pada saat pamitan, mama meminta bapak memberikan pasu-pasu kepadaku. Kami berdoa dan tak kusadari tangan bapak memegang kepalaku (baru kuketahui hal ini dari mama pada saat bapak meninggal). Bapak mendoakan pekerjaanku, dan keluargaku (istri dan anakku yang lagi di canberra). Pada saat itu aku menangis dan memeluk bapak erat-erat. Aku tidak tahu bahwa itulah saat terakhirku melihat bapak.
Sepulangnya di jakarta, aku segera disibukkan dengan pekerjaan. Pada saat itu aku mulai berpikir mengenai rencana operasi bapak. Kami akan membawa bapak ke rumkit Harapan kita jakarta kalau bapak sudah mulai pulih. Akan tetapi entah kenapa aku ogah-ogahan mengurusnya di rumkit Harapan Kita. Barulah pada minggu ketiga Mei aku mengurusnya. Sepulangnya dari rumkit Harapan Kita, aku mendapat list dokter jantung yang ada. Aku mulai mencari-cari dokter yang kualifikasinya baik dan cara konsultasinya enak. Selain itu aku juga berkunjung ke rumah tulang Pangkalan Jati memohon agar kiranya pada saat bapak datang, nanti bapak dan mama akan tidur di rumah tulang. Aku sering berkomunikasi dengan bapak dan mama, bahkan setiap hari entah melalui sms atau telepon. Aku menanyakan kabar bapak, bagaimana kondisinya dan menceritakan soal persiapan operasi. Kami sudah menetapkan tanggal sekitar tanggal 12 Juni bapak akan datang dengan mama dan akan dijemput tulang ke bandara, sementara itu aku akan mengurus urusan administrasi di rumkit Harapan Kita.
Bulan-bulan itu memang sangat menyibukkan. Di kantor ada banyak pekerjaan dan puji Tuhan beberapa kali kantor menyuruhku untuk bertugas ke daerah. Uang lelah dari tugas-tugas inilah yang kutabung untuk persiapan pengobatan bapak. Sudah kuhitung-hitung jumlahnya dan sekiranya Tuhan mengijinkan, pada bulan juni itu aku bisa memegang 10juta. Selain soal pekerjaan, aku juga disibukkan untuk berkomunikasi dengan istri dan anakku di canberra. Istriku bilang dia ada kesulitan membagi waktu kuliah dengan mengurus anak. Hal-hal semacam inilah yang membuat kegiatanku di bulan-bulan tersebut sangat padat. Bahkan 3 hari sebelum bapak meninggal, aku masih mendapat tugas ke bengkulu selama 2 hari. Aku bersyukur untuk tugas itu, oleh karena biarpun sedikit harinya tetapi ada uang lelah yang dapat disimpan.
Terakhir kali aku bertelepon dengan bapak adalah hari jumat seminggu sebelum dia meninggal. Kami bertelepon dan bapak berpesan agar aku rajin mengikuti acara-acara punguan raja parngalu silitonga jakarta. Itulah terakhir kalinya kami bertelepon. Pada hari minggunya biasanya kami bertelepon tetapi entah kenapa pada saat itu aku tidak berbicara dengan bapak. Pada hari minggu itu aku hanya bicara dengan mama, sedangkan bapak katanya sedang bersiap-siap ke gereja.

Sabtu 14 Mei 2011.
Paginya aku ke bengkel servis bulanan motor. Sembari menunggu motor, aku ke prodia kramat raya untuk mengukur kolesterol, asam urat dan gula darahku. Sudah hampir seminggu aku ada keluhan pegal-pegal di kaki, gara-gara maka ati ayam. Setelah dari prodia aku ke rumah uda salemba (bp fajar) dan ngobrol-ngobrol disitu sambil sarapan. Menjelang siang motor sudah selesai diservis, aku singgah ke rumah inang mertua di cawang, tapi inang mertua lagi keluar. Setelah itu aku ke rumah tulang pangkalan jati mengingat hasil prodia baru bisa diambil sore hari. Disana aku ngobrol-ngobrol dan diajak tulang untuk ikut ke acaranya tulang pendeta pada hari kamis (pernikahan borunya tulang pendeta di gorga 1), dan aku menyanggupinya. Disana pula aku berkomunikasi dengan tulang dan nantulang mengenai kemungkinan bapak dirujuk ke rumkit Harapan Kita dan memohon ijinnya agar bapak dan mama dapat menumpang sementara di rumah tulang. Pulangnya dari rumah tulang, aku ke prodia ambil hasil dan kaget lihat hasilnya asam uratku normal batas atas, kolesterol tinggi batas bawah, dan gula darah normal batas atas.

Minggu 15 Mei 2011.
Pagi ke gereja HKBP Sudirman, siangnya aku ke jakarta barat mencari-cari rute ke gedung acaranya tulang pendeta. Setelah ketemu rutenya, aku ke rumkit Harapan Kita untuk menanyakan masalah administrasi. Disini baru kutanyakan masalah administrasi bapak oleh karena aku sudah mendapat kepastian rumah tinggal bapak dan mama nanti.

Senin 16 Mei 2011.
Dapat sms dari tulang Pangkalan Jati kalau nadya masuk ITB. Bapak senang sekali kata mama.

Kamis 19 Mei 2011.
Ke acara tulang pendeta. Putrinya menikah. Kusalam tulang itu dan dia masih mengingat aku. Salam untuk bapak dan mama katanya. Mama ke singkawang menjenguk lisa adikku. Bapak memaksa ingin melihat lisa tapi oleh karena kondisi bapak, mama dan aku tidak membolehkan.

Jumat 20 Mei 2011.
Di kantor aku mempersiapkan tugas ke bengkulu. Sorenya dapat telepon dari bapak menanyakan kabar. Disitu bapak menasehati agar aku rajin ikut acara punguan raja parngalu silitonga jakarta.

Minggu 22 Mei 2011.
Bapak, mama dan ester ke gereja. Ester duluan ke gereja pagi karena dia bermain organ untuk sekolah minggu. Mama yang membawa motor. Pada saat persiapan ibadah, bapak memohon maaf pada parhalado karena tidak bisa ikut sermon hari kamis lagi karena kondisinya belum memungkinkan. Kemudian bapak dihiburkan para parhalado kalau boleh mereka akan sermon di rumah kami pada hari kamis nanti.
Selesai ibadah, seperti biasa bapak dan mama singgah di rumah uda Panggabean (bp ika). Lama mereka bicara disana dan bapak janji akan datang singgah lagi pada hari senin.

Senin 23 Mei 2011.
Tugas bengkulu selesai setengahnya, dan aku bersama tim singgah ke rumah pembuangan bung Karno. Sempat foto-foto disana dan kukirim MMS ke bapak.

Selasa 24 Mei 2011.
Pulang ke jakarta. Malamnya singgah ke rumah inang mertua membawa oleh-oleh. Disana ngobrol sebentar dan kuberitahukan rencana membawa bapak ke jakarta bulan juni nanti.

Rabu 25 Mei 2011.
Sore setelah kerja aku fitnes. Sehabis fitnes, tiba-tiba aku dapat telepon dari mama kalau bapak pingsan. Segera aku balik ke ruangan untuk mengurus tiket pulang ke pontianak. Pada saat itu aku belum ada firasat apa pun. Tiket kubeli perginya saja mengingat itu sudah hari kamis dan aku bisa mengajukan ijin atasan 2 hari. Malamnya aku mengirim BBM ke atasan dan beliau memberikan ijin. Selain itu rencana pulangku ini kusampaikan juga ke kakak galaxy (bp andre), dan inang mertua. Tulang pangkalan jati juga menelpon karena dia dapat telepon dari mama. Kusampaikan bahwa aku akan pulang ke pontianak besok paginya.
Jadi pada sore sekitar jam 5 mama masih membawa bapak berkeliling komplek atas permintaan bapak. Pulang ke rumah, mama menyiapkan teh sementara bapak mandi. Tiba-tiba bapak keluar dari kamar mandi mengeluhkan dadanya sesak. Bapak masih menggunakan handuk saja dan badannya masih basah. Kemudian mama membawa bapak ke kamar dan memanggil pak pendeta yappy tetangga kami untuk menemani berdoa. Pada saat itu bapak sudah pingsan dan mengorok.
Tak lama kemudian bapak sadar dan mama mempersiapkan baju bapak sembari memanggil abang ronal (bp daniel) dan abang anggiat (bp julio) untuk menemani mama. Tak ada mobil, tapi tiba-tiba ada datang tamu di tetangga sebelah rumah membawa mobil. Mobil inilah yang kami pinjam untuk membawa bapak ke rumkit Soedarso. Sepanjang perjalanan mama menangis sementara bapak menguatkan mama agar tidak menangis. Di mobil itulah mama meneleponku. Sesampainya di rumkit soedarso, bapak langsung dimasukkan di ICCU.
Malamnya kabar bapak masuk ke rumkit sudah diketahui jemaat gereja HKBP Teluk Mulus, akan tetapi oleh karena sedang kebaktian keluarga dan saat itu hujan lebat diputuskan hari kamis saja mereka akan menjenguk.
Malamnya opung ampera (bp andi) datang dan mereka bertiga (opung ampera, abang ronal, dan abang anggiat) diminta mama untuk menemani di rumkit. Ester juga akan tidur di rumkit dan pakaian sekolahnya sudah disiapkan. Rencana kamisnya pagi dia akan bersiap-siap di rumah inangtua hara (op dina) dan berangkat ke sekolah dari situ.
Dari jakarta aku kabari mama kalau aku berangkat pagi pesawat pertama. Mama menyampaikan kabar ini ke bapak akan tetapi bapak khawatir soal pekerjaanku dan dijawab mama aku akan mengurusnya dengan baik. Selain dengan mama, aku berkomunikasi juga dengan abang anggiat. Jadi rencananya aku akan naik taksi bandara langsung ke rumkit. Malamnya aku bersiap-siap dengan tas koper dan menelepon taksi.
Aku mencoba memberitahukan istriku tapi karena sudah larut malam dia tidak mengangkat teleponnya.
Malamnya aku sulit tidur. Entah karena badanku yang pegal karena fitness atau pikiranku yang ke bapak terus. Sejak jam10 malam setelah semua koper dan bawaanku beres, aku sibukkan diri dengan baca komik di laptop. Sambil membaca, aku putar lagu-lagu rohani. Salah satu lagu yang paling kuingat adalah lagunya masnait yang judulnya salib Yesus. Aku tidak akan lupa dengan lagu ini karena pada saat itu aku tiba-tiba menangis mendengar liriknya.

Meski ombak dan gelombang,
ribut topan menderu
bawa daku di samudra
suara iblis berseru

tiada takut dan gelisah
karena Tuhan serta beta
beryukur, kubersujud di kaki salibNya

salib Yesus, salib Yesus
jadi saksi dalam hidupku
salib Yesus, salib Yesus
yang bebaskan sgala dosaku

Kamis 26 Mei 2011.
Subuh jam 2 bapak mulai merasa sesak lagi. Mama menemani bapak terus. Ester tidur luar ruangan, sementara opung ampera, abang ronal dan abang anggiat diluar. Tiba-tiba puncaknya pada jam 3 subuh, bapak sesak parah. Ester dipanggil ke dalam. Akan tetapi bapak menyuruh ester keluar ruangan ditemani abang anggiat. Tinggallah mama dan abang ronal menemani bapak. Usaha terakhir pertolongan perawat dibantu mama dan abang ronal mulai dilakukan.
Tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan memanggil bapak ke pangkuanNya sekitar jam 0320 pagi.
Pada saat itu aku baru saja tidur. Aku tidur jam 1. Entah kenapa aku sulit tidur. Abang anggiat menelpon dan aku langsung bangun. Tapi belum sempat kuangkat telpon, koneksi putus. Aku pikir mungkin abang itu salah pencet nomorku atau tidak sengaja terpencet nomorku. Tak lama datang telepon taksi mengabarkan sebentar lagi taksi jemputanku akan datang. Kupikir awal benar taksinya datang karena aku pesan taksinya datang jam 0430. Setelah itu datang telepon dari amangtua medan, dia tanya kondisi bapak. Katanya ester menelepon ke medan sambil nangis. Aku jawab belum ada kabar.
Setelah itu barulah datang telepon mama kalau bapak sudah meninggal. Saat itu rupanya abang anggiat bermaksud memberi kabar kepadaku tetapi dia tidak sanggup karena sedihnya. Aku menangis di kamar dan aku berdoa. Setelah itu aku siap-siap karena taksi sudah datang. Kuambil baju kemeja hitam karena itu akan kupakai. Sebelumnya kemeja ini tidak akan kubawa, karena rencana awalku adalah menjenguk bapak yang sakit. Tapi akhirnya rencana berubah, kemeja ini harus kubawa juga. Aku berangkat dari kos sekitar jam 4 subuh.
Sepanjang perjalanan ke bandara aku menangis. Aku mulai menulis sms dan mengirimkannya ke keluarga-keluarga sambil mohon doa mereka agar semuanya dilancarkan. Masih dalam perjalanan aku langsung mendapat balasan entah sms atau telepon. Sampainya di bandara, aku mengirim BBM ke atasan menjelaskan kemungkinan aku akan lama di pontianak dan meminta ijin. Atasanku memberikan ijin.
Sesampainya di ruang tunggu bandara aku dapat telepon dari istriku. Dia kaget tapi kuminta agar berdoa untuk rencana perjalananku dan rencana ulaon nanti. Katanya anakku tadi subuh tiba-tiba nangis sekitar jam bapak meninggal.
Kemudian aku dapat kabar dari bang anggiat kalau mama menyuruhnya menjemput lisa di singkawang. Kemudian hari aku baru tahu kalau sekitar jam 5 pagi mama sempat pulang ke rumah untuk mengambil jas dan pakaian bapak. Mama mengambil jas bapak yang paling bagus, jas yang dipakainya saat pernikahanku. Sementara bapak dimandikan dan diberikan formalin serta administrasi diurus, disitulah mama pulang ke rumah mengambil jas bapak.
Pada saat itu sudah datang uda pam (ketua silitonga), dan lae sagala (bp dina) membantu administrasi dan lain sebagainya. Sementara di rumah kami, lae simangunsong (bp duli) dan beberapa keluarga mempersiapkan rumah kami untuk acara penguburan. Sekitar jam 6 pagi bapak sudah dibawa ke rumah. Sesampainya di rumah, bapak dibaringkan di ruang tamu. Sementara itu abang anggiat diminta mama menjemput lisa di singkawang. Uda pam juga meminta agar abang ronal dan lae simangunsong menemani ke singkawang. Persiapan ulaon mulai dilakukan. Yang mempersiapkan konsepnya antara lain kakak siantan (op oriza), uda pam, dan opung ampera.
Oleh karena kamis paginya aku sudah di rumah dan tidak ada lagi yang ditunggu, maka diputuskan bapak akan dikuburkan pada hari jumat 27 Mei 2011.
Aku tiba di pontianak sekitar jam 7. Amang sintua sinaga yang pertama menghubungiku. Katanya nanti akan ada jemaat yang menjemput. Sekitar jam setengah 8 aku sudah di rumah. Rumah sudah ramai orang, kulihat mama dan ester sembab karena menangis terus.
Aku juga menangis. Kejadian itu benar-benar tak kusangka dan aku tidak ada firasat apapun kalau bapak akan meninggalkan kami. Rencanaku pulang adalah untuk menjenguk bapak yang sakit, tapi ternyata aku pulang hanya untuk melihat mayat bapak.
Pada saat itu aku tidak bisa berpikir. Pikiranku tiba-tiba blank sesaat. Puji Tuhan untuk keluarga-keluarga yang hadir saat itu banyak yang menguatkan kami. Kami terhibur dengan kehadiran mereka. Mereka banyak membantu padahal mereka juga sedih sekali melihat bapak yang meninggal. Bagi mereka bapak adalah orangtua mereka juga sama seperti bagi kami. Banyak keluarga yang berdatangan dan menangis melihat jenazah bapak.
Setelah beberapa saat aku mulai bertanya-tanya soal ulaon. Tak lupa aku menyuruh mama makan dan menghibur ester. Keputusan keluarga adalah bapak akan dikubur jumat 27 Mei 2011, ulaon yang dibuat adalah ulaon sarimatua, siboan yang disediakan adalah na miak-miak, setelah acara ulaon akan diadakan kebaktian di gereja, model peti bapak, kuburannya, dan terakhir tugasku diminta menghubungi keluarga di medan, jakarta dan palembang untuk memastikan kehadirannya.
Alasan penguburan bapak pada hari jumat adalah karena paginya aku sudah sampai di rumah dan lisa akan tiba sore hari. Sementara itu kudapat kabar kalau rombongan dari jakarta (tulang dan nantulang pangkalan jati, amangboru cileungsi, dan lae anaknya amangboru medan) akan tiba di sore hari. Rombongan dari medan (nantulang dan lidya) beserta amangtua medan juga akan datang sore harinya. Rombongan inang mertua dan tungganeku akan tiba besok pagi bersama inangbaju dan kak nensi. Selain itu tidak ada rencana istriku dan anakku untuk pulang oleh karena dia sedang ujian dan mengingat jarak yang sangat jauh. Alasan lain adalah mengingat hari sabtu punguan simanjuntak memiliki acara ulaon pernikahan, dan kalau ditunda bisa jadi penguburan bapak akan diadakan pada hari minggu. Pada saat itu juga kami mendapat kabar kalau ada marga pardede yang meninggal di jakarta dan akan dikuburkan di pontianak. Rencana keluarga pardede itu adalah pada hari jumat jenazahnya akan diterbangkan ke pontianak. Mengingat semua hal ini, maka keputusan penguburan bapak pada hari jumat adalah keputusan yang terbaik.
Sepanjang siang hingga sorenya terus dilagukan puji-pujian kepada Tuhan. Kami yakin itulah yang akan menguatkan kami melalui kedukaan ini. Ester juga bernyanyi sendiri melagukan pujian. Aku sendiri sulit bernyanyi karena setiap bernyanyi malah airmataku yang keluar bukannya suaraku. Saat itulah kurasakan 2 hari itu akan jadi hari-hari terpanjang dalam hidupku.
Sorenya acara mulai diadakan. Lisa sudah tiba. Dia langsung menangis melihat jenazah bapak. Katanya dia melihat bapak datang dengan motor menjemput dia di jembatan kapuas. Hanya lisa yang melihat bapak dengan motor di belakang mobil sementara abang yang menemani lisa tidak melihatnya. Rombongan lisa juga diantar oleh abang panjaitan (suaminya perawat lisa). Aku tersentuh dengan tangisannya lisa. Walaupun pikirannya sakit dan dia dirawat lama di rumkit singkawang, dia tetap sadar dan ingat kepada kasihnya bapak. Kasihan adikku ini, dia sulit mengontrol emosinya. Akibatnya dia sering marah dan membuat susah bapak. Tapi ketika dilihatnya jenazah bapak, aku lihat dia benar-benar terpukul. Semoga dia akan baik-baik saja dan bahkan sembuh pasca meninggalnya bapak.
Rombongan gereja 2x mengadakan kebaktian. Yang pertama adalah rombongan parhalado resort hkbp kota baru yang dipimpin amang pendeta parhusip dan inang pendeta pardosi. Yang kedua adalah rombongan jemaat hkbp teluk mulus yang dimpimpin oleh amang pendeta sihombing. Selain itu ada juga rombongan NHKBP teluk mulus, rombongan parsahutaon, dan rombongan hula-hulaku. Menjelang malam, amangtua medan dan amangboru cileungsi sudah tiba di rumah. Puji Tuhan acara martonggoraja juga berjalan lancar. Setelah acara martonggoraja, jenazah bapak dimasukkan ke dalam peti. Sekitar jam setengah 10 rombongan tulang tiba dan acara oleh rombongan tulang mulai dilakukan.
Setelah acara itu, kuminta mama supaya beristirahat. Mama tidur di dekat peti bapak. Mama tidur bersama ester dan lisa dan ditemani ibu-ibu.

Jumat 27 Mei 2011.
Menjelang jumat, lewat sedikit dari kamis tengah malam semua tamu hampir pulang kecuali keluarga-keluarga terdekat kami. Aku pun mulai mempersiapkan jujur ngolu bapak dibantu amangtua medan. Sekitar jam 1 barulah aku dapat tidur. Aku tidur di kamar belakang. Aku tidak kuat tidur dibawah kipas di ruang tamu dekat peti bapak.
Jam 3 subuh aku terbangun karena mendengar mama dan ester menangis. Aku menemani mama. Sembari menjaga mama, aku memantau tempat tidur para keluarga. Kulihat amangtua medan dan rombongan keluarga yang datang sudah pada tidur. Amangtua medan tidur di dekat peti bapak juga, aku beri dia selimut. Sementara amangboru dan lae ramot tidur di kamar ester. Rombongan tulang jakarta dan nantulang medan dibawa uda esti menginap di rumahnya karena di rumah saat itu lagi kesulitan air.
Tidak lama kutemani mama dan kubujuk-bujuk mama agar mau tidur lagi. Mama akhirnya mau tidur lagi. Tapi sebelum itu kubantu mama meletakkan toga sintua bapak diatas jenazah bapak. Setelah itu barulah aku tidur lagi. Sebelum tidur, aku putar lagu pasu-pasu hami o Tuhan, dan holan Ho do haporusan. Aku ulang-ulang lagu pasu-pasu hami o Tuhan, lagu itulah yang menguatkanku.
Akhirnya aku tidur selama 1 setengah jam. Jam 5 aku sudah bangun dan bersiap-siap. Aku menemani mama mengurus air. Kami membeli air 1 mobil tanki untuk persiapan acara di rumah. Setelah itu aku mengajak mama, ester dan lisa sarapan karena acara keluarga akan dimulai pada jam setengah 8.
Untuk acara ulaon aku agak sulit mengingatnya karena acaranya berlangsung padat dan saat itu aku tidak berkonsentrasi penuh karena sedih sekali. Tapi yang kuingat acara sudah selesai sekitar jam setengah 3 sore dan pada saat itu kami sudah mulai berangkat ke gereja. Tapi puji Tuhan acara ulaon berlangsung baik dan lancar. Semua karena kasih penyertaan Tuhan saja.
Setibanya di gereja, peti bapak diangkat oleh para parhalado. Aku kaget karena yang memimpin acara adalah amang pendeta parhusip (pendeta resort). Dia menemani amang pendeta sihombing. Aku tahu dari mama kalau bapak dan amang pendeta parhusip ini sangat akrab karena tugas sebagai sesama parhalado resort. Puji Tuhan acara berjalan baik. Ester bernyanyi lagi di gereja. Aku salut dengan ketabahannya. Dia lebih kuat dariku karena dia bisa menyanyi disaat seperti itu sementara aku tidak. Ester bernyanyi lagu ‘di doa bapak namaku kudengar’. Selesai acara, sebelum peti ditutup jemaat dibolehkan untuk melihat jenazah bapak untuk terakhir kalinya. Setelah itu peti ditutup dan rombongan memulai perjalanan ke komplek pekuburan sungai kakap.
Kami tiba di sungai kakap sekitar jam setengah 4. Puji Tuhan acara penguburan juga berjalan baik dan lancar. Tadinya ketika keluar dari rumah menuju gereja ada sempat hujan sebentar tapi setelah itu cuaca kembali baik. Di komplek kuburan itulah aku pertama kali melihat kuburannya abang siantan (op oriza) dan anaknya si welly (temanku sedari kecil). Mereka dekat dengan keluarga kami dan pada saat meninggalnya aku tidak sempat melihatnya.
Sorenya kami menerima rombongan tuan dibangarna yang akan mangapuli kami. Puji Tuhan acara berjalan baik. Kami dikuatkan dengan kesaksian mereka mengenai bapak dan aku pribadi (juga untuk istriku) mendapat banyak nasehat disitu.
Malamnya kami menghitung sumbangan duka dalam amplop yang diberikan para keluarga dan juga menghitung biaya-biaya yang keluar selama pemakaman bapak. Sejak awal kakak siantan (op oriza) sudah berpesan agar aku tidak memikirkan uang, karena dia yang akan menanggung semua biaya awal. Setelah hitung-hitung, kami lihat tidak terlalu banyak yang harus kutanggung karena sebagian besar biaya pemakaman tercukupi oleh amplop itu. Puji Tuhan karena pertolonganNya dan penyertaanNya selama acara pemakaman bapak dari awal hingga akhirnya. Tuhan menolong dan menguatkan kami melalui hari-hari terpanjang ini. Tuhan juga mencukupkan biaya pemakaman bapak. Tuhan juga menunjukkan kasihNya melalui keluarga-keluarga yang bersedih bersama-sama kami. Tidak pernah Tuhan meninggalkan kami. Terpujilah Tuhan!
Malamnya rombongan tulang jakarta dan nantulang medan menginap di rumah. Ada yang lucu disini. Ketika itu abang ronal dan abang panjaitan singkawang masih main catur. Tiba-tiba tengah malam dilihat mereka tulang terbangun dan keluar rumah. Rupanya tulang mimpi dan tidur sambil jalan.

Sabtu 28 Mei 2011
Pagi jam 8 kami dibawa tulang untuk mengurus kuburan bapak. Masih ada yang harus dibayar ke petugas pemakaman. Disana kami berdoa mengucap syukur kepada Tuhan karena penyertaanNya selama acara pemakaman bapak.
Siangnya tulang dan kak nensi pulang. Sementara nantulang sudah pulang duluan paginya karena mau mengurus sekolahnya ishak. Menjelang sore lae ramot kuantar menemui pihak keuskupan yang mengundang dia. Sore nantulang medan memasak kue.

Minggu 29 Mei 2011
Minggu pagi aku ke gereja bersama amangtua medan. Di gereja yang membawa khotbah adalah inang pendeta pardosi. Kami dikuatkan melalui khotbah dan doanya inang pendeta. Pada saat doa syafaat, inang itu secara khusus berdoa untuk keluarga kami dan sakitnya lisa.
Menjelang sore aku mengantar amangboru ke bandara. Sorenya rombongan nantulang medan dan nangbaju pulang.

Senin 30 Mei 2011
Sore kami menerima rombongan dari gereja HKBP yang akan mangapuli. Puji Tuhan acara berjalan baik. Kami sekeluarga dihiburkan dan aku (juga untuk istriku) mendapat banyak nasehat.

Selasa 31 Mei 2011
Sore kami menerima rombongan dari tulang Simanjuntak yang akan mangapuli. Puji Tuhan acara berjalan baik. Kami sekeluarga dihiburkan dan aku (juga untuk istriku) mendapat banyak nasehat.

Rabu 1 Juni 2011
Aku mengantar amangtua ke bandara.
Setelah itu aku ke bank mengurus pinjaman bapak. sebelum itu beberapa kali aku juga ke kantor lurah dan rumkit soedarso mengurus surat kematian bapak guna keperluan ke taspen.

Kamis 2 Juni 2011
Aku dan ester ke gereja merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Mama belum mau ke gereja karena masih cape. Selain itu lisa bangunnya siang.
Sorenya kami menerima rombongan dari silitonga guru hinombingan yang akan mangapuli. Puji Tuhan acara berjalan baik. Kami sekeluarga dihiburkan dan aku (juga untuk istriku) mendapat nasehat.

Jumat 3 Juni 2011
Beberapa hari sebelumnya aku dapat kabar kalau aku akan berangkat tugas ke aceh. Surat tugas dan keperluan lainnya sudah disiapkan temanku. Pada hari jumat ini aku mulai mempersiapkan materi sosialisasinya.

Sabtu 4 Juni 2011
Kami sekeluarga ziarah ke makam bapak. Disana kami bertemu dengan kakak siantan (op Oriza) yang juga berziarah ke makam abang dan anaknya. Pulangnya kami makan siang di tempat rekreasi sungai kakap. Saat itu hujan lebat dan kami tidak lama disana. Kami diantar oleh opung ampera (bp andi) dan kami singgah sebentar di rumahnya. Opung ini baik sekali mau mengantar kami.

Minggu 5 Juni 2011
Kami sekeluarga ke gereja. Aku membawa ester, dan mama membawa lisa. Pulang gereja, mama bilang dia tidak kuat selama di gereja tadi. Tapi puji Tuhan untuk penyertaanNya pada mama. Mama bisa mengikuti kebaktian dari awal hingga akhir. Aku percaya melalui kebaktian gereja maupun kebaktian keluarga, mama akan semakin dikuatkan.
Menjelang sore abang anggiat dan keluarga datang. Kami bercerita-cerita lama.
Sorenya aku berangkat ke bandara untuk kembali ke jakarta.

Puji Tuhan untuk semua hal ajaib yang kualami ini. Kami keluarga dilanda kesedihan yang mendalam tetapi Tuhan menguatkan kami melalui kesaksian para keluarga dan tangisan mereka. Kami yakin dan percaya bapak sudah menyelesaikan pertandingannya di dunia ini dengan baik. Oleh karena itu …

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: