Budiman Sudjatmiko – Saya Bukanlah Seorang Pemberani


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/08/24/02425780/saya.bukanlah.seorang.pemberani.

Selasa, 24 Agustus 2010 |

Pengantar Redaksi

Budiman Sudjatmiko mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa pada awal-awal kuliah. Sekitar 4 tahun dia menerjunkan diri sebagai community organizer yang melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh perkebunan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibat kegiatannya ini pula, Budiman tidak sempat menyelesaikan kuliahnya.

Namanya menasional, sejak tahun 1996, Budiman mendeklarasikan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia pun dipenjara oleh penguasa Orde Baru dan divonis 13 tahun penjara karena dituduh mendalangi Kerusuhan 27 Juli 1996, yang hingga kini tidak pernah diusut tuntas.

Setelah kuliah Ilmu Politik di Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris, Budiman bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan sekarang memimpin Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) dan menjadi anggota DPR dari Fraksi PDI-P.

***

Mas, sejauh mana ideologi bangsa kita berperan menentukan platform pembangunan kita? Rasa-rasanya kok semua partai maunya ngaku Pancasilais dan pro-rakyat kecil. Akan tetapi, ketika sudah pada tahap implementasi, semuanya seperti ”hilang ingatan” karena kebijakannya sama sekali beda….(Gudono, xxxx@gmail.com)

Bung Dono, Indonesia sebenarnya sebuah republik yang para pemimpin politiknya tahu betul apa yang semestinya mereka lakukan. Sayangnya, banyak di antara mereka bimbang untuk menuntaskan komitmennya pada Pancasila, ketika dalam memperjuangkannya bertabrakan dengan kepentingan-kepentingan sesaat sebagai pribadi maupun kelompok. Perlu generasi yang lebih otentik, yang tak tercemar masa lalu, untuk mewujudkannya.

Pandangan atau prinsip apa yang berubah dari Anda antara zaman masih jadi aktivis dulu dengan sekarang (setelah menjadi anggota Dewan). Usaha riil apa yang sudah Anda lakukan untuk mengusut tuntas kasus 27 Juli? (Tri Hasmoro, Kramat Jati, Jakarta Timur)

Secara prinsipiil, saya tidak berubah. Namun, demokrasi ini membutuhkan kesabaran dan penekanan ego diri sendiri, karena setiap pelaku demokrasi dalam sistem ini adalah unik. Motivasi, kemampuan, latar belakang, dan pengalaman kami sebagai anggota Dewan sangat beragam.

Menyangkut Peristiwa 27 Juli dan pelanggaran HAM yang lain, PDI-P dan PKB pada periode DPR yang lampau adalah partai-partai yang mendukung pembentukan pengadilan ad hoc bagi pelanggaran HAM. Sebagai kader partai maupun pribadi, saya dituntut untuk menguak kebenaran dari peristiwa tersebut. Harus diakui, itu tidak mudah.

Ada grup di Facebook, ”Budiman Sudjatmiko for Next President”. Kalau memang ada dukungan dari arus bawah, apakah Anda serius menyikapinya? Lewat kendaraan apa, mengingat sepertinya PDI-P tidak akan memberikannya kepada Anda? (Irwan Jaelani Kurniawan, xxxx@gmail.com)

Saya tidak tahu siapa yang membuat grup Facebook tersebut. Menjadi presiden hanya salah satu cara untuk berjuang. Tidak pernah jadi tujuan utama saya. Apakah PDI-P tak akan memberikan peluang kepada saya? Saya kira partai akan memberikan ruang itu bagi siapa pun yang berkehendak baik sekaligus pantas. ”Bagi mereka yang bisa mengembangkan karisma”, begitu kata Bu Megawati dalam pidatonya di Rakornas PDI-P. Siapa pun itu….

Namun, angan-angan bahwa saya didukung oleh arus bawah untuk menjadi presiden hanya akan menggoda saya untuk membangun pencitraan belaka, dengan menomorduakan kinerja nyata bagi perbaikan kondisi hidup rakyat. Tujuan kita berbangsa sudah banyak dikorbankan oleh wabah angan-angan seperti itu.

Melihat kepada Sejarah Perjuangan Anda, pantas dikagumi, karena pada zaman Orde Baru, hanya beberapa orang yang berani vokal. Banyak tudingan yang dilontarkan kepada Anda. Banyak penderitaan yang Anda alami. Saya menanyakan kebenaran berita, bahwa Anda melakukan pernikahan di salah satu hotel mewah di daerah Senayan, padahal Anda dikenal memperjuangkan kaum tertindas…? Anda, kan mantan Ketum Partai Rakyat Demokratik. Ada gejala PDI-P dan PD mengarah kepada partai keluarga? (Berlin Simarmata, Depok)

Bung Berlin, saya selalu menepis perasaan sebagai orang yang paling berkorban atau menderita dalam perjuangan reformasi. Pemenjaraan saya tak memberi saya hak berlebih atas hasil-hasil reformasi.

Tentang pernikahan saya, saya melakukannya di kantor departemen pemerintahan, bukan di sebuah hotel mewah.

Tentang kecenderungan munculnya partai keluarga, sejarah dan kita semualah yang akan menentukan. Menjadi bagian dari keluarga politik terpandang memang memudahkan sebagian politisi muda untuk memperoleh rasa segan.

Apa alasan paling mendasar sehingga Anda memilih tidak membesarkan PRD, tetapi menjadi anggota DPR? Masih pantaskah DPR disebut sebagai lembaga perwakilan rakyat? Apa pendapat Anda terhadap joke di masyarakat bahwa DPR > Dewan Penjarah Rezeki? (Saptono, Salatiga)

PRD kami dirikan pada tahun 1994, dengan semangat dan format organisasi perlawanan atas kediktatoran Orde Baru yang kami perkirakan akan berlangsung lama. Namun, perubahan politik lebih cepat datangnya. Dalam kondisi politik terbuka, sebagian dari kami merasa bahwa format organisasi tak lagi sesuai. Wajarlah terjadi perbedaan dan perdebatan dalam menilai situasi politik yang baru.

DPR tetap merupakan lembaga perwakilan rakyat. Saya berusaha mengoptimalkan fungsi itu dalam pengawasan, pembuatan undang-undang, penyusunan anggaran, ataupun juga fungsi representasi dengan cara membangun rumah aspirasi dengan dana sendiri untuk mendampingi petani dan mengadvokasi masyarakat desa.

Saya termasuk yang mengagumi perjuangan Anda saat masih ber-”pakaian” PRD. Sekarang, kok sepertinya suara Anda menyurut? Semoga tidak terkena imbas kenikmatan duniawi seperti beberapa vokalis lainnya yang kehilangan suara mendadak setelah dapat jabatan dan harta…. Semoga saya salah…. (Tessa, xxxx@yahoo.com)

Tessa yang tulus, terima kasih atas apresiasi baikmu. Jika pun dulu saya terdengar lantang, karena barangkali dulu saya berteriak ketika banyak orang masih tertidur. Sekarang, kan semuanya sudah terbangun dan berteriak beramai-ramai..ha ha ha… sehingga suara saya terdengar tidak selantang dulu.

Pilih mana nih, puas dengan keadaan saat ini, reformasi, atau revolusi? (Andan Satyagraha, Surabaya)

Saya belum puas dengan keadaan sekarang karena kebebasan yang kita nikmati sekarang belum memajukan kesejahteraan rakyat dan kebangkitan Indonesia di kancah internasional. Karenanya, saya mengundang Anda untuk memperbaiki keadaan ini dengan memasuki dunia politik.

Revolusi? Jika Anda bisa menjadikan kompetisi politik kita lebih murah, demokrasi kita lebih serius dimanfaatkan untuk mencerdaskan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum, mengamankan sumber daya alam dan menyediakan jaminan sosial yang memadai untuk kesejahteraan rakyat, maka Anda sudah menjadi revolusioner.

Salut juga melihat perjalanan karier Bung Budiman ini. Mulai dari aktivis mahasiswa sampai menapak ke lembaga tinggi negara ini. Bung menjadi salah satu orang penting negeri ini yang berasal dari mantan aktivis. Sebagian orang sih kurang simpatik, terkhusus kawan-kawan seperjuangan dulu, iya kan Bung? Bagaimana saat ini seorang Budiman tetap mempertahankan idealisme yang pernah disuarakan di tengah-tengah sistem kepartaian dan lembaga DPR yang makin kurang dipercayai rakyat? Menurut Bung, kasus Lumpur Lapindo, Bank Century, kompor gas meledak harga dan tabungnya, cocoknya diapakan, ya? Makasih juga buat Kompas yang memuat pertanyaan-pertanyaan saya. Semoga Kompas terus kritis, idealis, dan jaya. NB: jangan diedit ya. (Hendro Hutabarat Hendro Parulian, xxxx@yahoo.co.id)

Memang ada sejumlah rekan yang pesimistis dengan langkah saya masuk parlemen. Namun, banyak juga yang mendukung. Keduanya menginspirasi saya.

Inspirasi juga saya peroleh dengan mengunjungi para petani di desa, setiap akhir minggu.

Kasus-kasus yang tadi Anda sebutkan harus dituntaskan dengan adil, jika tidak rakyat akan kehilangan segalanya, tanah, masa depan, nyawa, dan juga kepercayaan mereka kepada lembaga demokrasi.

Saya selalu penasaran dan bertanya-tanya: Kenapa kebanyakan dari orang-orang kita hanya bisa ”omdo” alias omong doang. Dulu, waktu masih jadi pengamat/ orang biasa, vokalnya minta ampun, mengkritisi kinerja pejabat pemerintahan. Tetapi, giliran udah jadi pejabat, tingkahnya dan hasil kerjanya enggak jauh beda dengan yang dulu mereka kritisi.(M Agung N, Pemalang)

Mungkin kritik yang mereka sampaikan di masa lalu lebih karena kebencian kepada koruptor, bukan pada korupsinya sendiri. Saya khawatir, mereka tidak konsisten karena berjuang semata atas dasar kebencian kepada mereka yang menyengsarakan rakyat, tetapi kurang rasa cinta kepada rakyat karena tidak dekatnya mereka dengan kehidupan rakyat sehari-hari. Konsistensi hanya bisa dibangun di atas empati terhadap hal yang baik ketimbang dibangun atas antipati pada sesuatu yang buruk.

Tertarik dan menyimak kiprah generasi muda yang dinamis dan idealis seperti Anda. Ketika rezim Orde Baru sedang galak-galaknya dan Mas Budiman Sudjatmiko masih sangat muda, sudah ”nekat” menempuh risiko, berani berjuang dan berpolitik ”melawan arus”. Pertanyaan saya, inspirasi dan aspirasi apakah yang membuat Anda setia memelihara idealisme dalam berpolitik? (Rwinantu, Jakarta Utara)

Saya bukanlah seorang pemberani, saya hanya membenci ketakutan yang saat itu mewabah seperti penyakit menular. Padahal, saat itu ketimpangan begitu mencolok, aroma korupsi begitu tajam tercium meskipun kebebasan dikekang sedemikian rupa.

Saya hanya belajar dari sejarah dunia bahwa di tengah situasi seperti itu sebuah generasi, atau setidaknya sekelompok orang dari generasi itu, atau setidaknya seseorang dari sekelompok orang itu, harus mulai melangkah untuk menghentikannya dan mengubah keadaan…. (ush)

About these ads

8 responses

  1. Sangat mengagumkan dan bisa memberikan inspirasi dan teladan pada generasi muda untuk mencontohnya

  2. ade Firdaus Napitupulu | Reply

    Sosok yang Pintar dan Layak untuk di’jadikan sebagai Panutan bagi kaum muda..

  3. panjang masih waktu kt. unt melihat kiprahmu..! dan aq adalah bagian dr orang2 yang salah menempatkan posisi pada masa itu. Tapi bagi aq,..ini bukan duniamu, melainkan milik kita…..lantang qu suarakan tantangan padamu,..! dan aq masih memupuk semua idialisme yang terkubur namun tak pernah mati… merdeka..! mungkin br jadi milikmu, tp belum aq…”goodlucky saudara, aq belum sesibukmu…………….

  4. dines ginting | Reply

    salah satu generai muda yang saya kagum

  5. Bung anda sepekan sekali berkunjung ke desa untuk menemuin petani, kira2 apa yg bung lakukan disana…? apakah cuma janji atau ada tindakan nyata yang terbukti untuk petani, karena arah kita sama bung…, berniat memajukan petani Indonesia untuk hidup lebih sejahtera tapi saya bergerak dalam hal aplikasi teknologi ke petani bukan sebagai wadah politik, bung bisa pantau gerakan kami di situs http://ecotani.com/ terimakasih sebelumnya

  6. Kang..

    Inyonge arep takon, jane kae anggota DPR sing bener2 mewakili aspirasi rakyat kuwe sing keprime yah?? Jaman ganu nyong milih ujarku koar-koar bakalan arep menyuarakan aspirasi masyarakat. Tapi nyatane malah pada seneng mementingkan kepentingane dhewek karo partene.
    Jane ora urusan arep partene apa. Sing penting kabeh kebijakan, usulan, gagasan kuwe pancen nggo rakyat. Dadi semboyane ora bakal di plesetna “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Partai”

    Suwun. Salam Ngapakers.

  7. bkn hanya selalu siap dengan perubahan…tp siap pula membuat perubahan…!!!
    bravo 4 budiman sudjatmiko…!!!!

  8. Teringat tahun 1995 kakak ipar saya yang saat itu menjabat di Balitbang Depdagri dalam obrolannya sempat mengapresiasi mas Budiman ini sebagai “sosok pemimpin masa depan”. Dan ternyata benar, peristiwa Juli 1996 adalah tonggak sejarah dimana kesan kepemimpinan itu sangat kuat hingga saya berniat ingin bergabung dengan PRD.

    Namun sayangnya, karena keterbatasan informasi dan kesibukan saya diperusahaan keluarga, niat saya itu pun tak tersampai. Hingga kemudian saya ketahui bahwa mas Budiman telah menjadi fungsionaris PDI-P dan bahkan – kini – telah mengemban mandat sebagai wakil di Senayan.

    Apabila di suatu saat kelak PRD akan terlahir kembali, saya akan segera mengajukan diri untuk menjadi kadernya, karena saya yakin sekali aspirasi saya akan lebih terakomodir di PRD, ketimbang di PDI-P. Alasan saya, karena di PDI-P sudah sangat banyak tokoh cerdas dan lebih bernilai dibandingkan saya ini.

    Secara pribadi, saya tetap kagumi mas Budiman karena konsistensinya menjaga sikap “suméléh” dan “andhap asor” meski kehidupan beliau sudah sangat nyaman sekarang ini. Saya juga yakin, mas Budiman masih tetap konsisten mempertahankan idealisme-nya seperti dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: