Monster Pembunuh itu Masih Anak-anak


Sumber:
http://blog.liputan6.com/2009/08/19/monster-pembunuh-itu-masih-anak-anak/

Oleh Vincent Hakim

Di siang yang terik itu, seorang anak mengarahkan senjata basoka ke sebuah bangunan. Gedung itu hancur berantakan. Dua anak laki-laki berumur 9 dan 15 tahun, bersama sekitar delapan anak lain yang juga menenteng senjata otomatis segera menyerbu masuk. Mereka menembaki siapa saja yang ada di dalam gedung perkantoran milik asing itu.

Mad Dog dan seorang anak lagi memeriksa ruangan-ruangan gedung yang hancur itu. Dua anak bersenjata mesin itu merupakan anggota dari paramiliter tentara anak-anak. Tak lama kemudian, mereka berdua berhasil memergoki seorang wanita dewasa berkulit hitam yang berlari kabur dari sebuah ruangan. Si wanita bermaksud menyelamatkan diri dan sembunyi. Tapi nasib berkata lain.

“Hai. Kenapa kamu lari? Pengkhianat!” kata Johnny Mad Dog, seorang anak yang masih berumur 15 tahun itu dalam bahasa lokal setempat. Perempuan yang ditodong itu, tidak bisa menjawab karena begitu ketakutan.
“Udah, langsung tembak, bunuh saja!” ujar si anak yang umurnya masih sekitar 9 tahun itu, dengan warna suaranya yang masih sangat khas anak-anak. Tak hanya senjata otomatis yang menggelantung di pundaknya, tapi juga boneka mainan yang selalu dikalungkan di lehernya. Anak ini, sepertinya, anak buah kepercayaan Mad Dog.

“Tidak. Nanti dulu, sepertinya ia lumayan juga. Aku mau.” kata Mad Dog sambil memandangi wajah dan tubuh tinggi si wanita dewasa.
“Mad Dog, sudah cepat lakukan!” kata anak kecil itu. Anak itu lalu mengokang senjata dan memaksa si perempuan merebahkan diri.

Maka sejurus kemudian, sambil tak henti-hentinya melontarkan makian dan sumpah serapah kepada si wanita, Mad Dog memaksakan hasrat birahinya itu. Kemudian, anak buahnya yang masih amat belia itu pun minta bagian. Dua anak itu telah memperkosa si wanita secara bergantian!

Cerita ini merupakan bagian kecil dari cuplikan sebuah pengalaman kekerasan dan kekejaman Johnny Mad Dog dan teman-temannya yang menjadi tentara anak-anak di kawasan konflik di Liberia.

***

Film berjudul Johnny Mad Dog, garapan Jean-Stephane Sauvaire yang mendapatkan penghargaan Price of Hope di festival Cannes 2008 sangat representatif menggambarkan betapa brutalnya anak-anak yang telah dicuci otak oleh suatu rezim. Film Johnny Mad Dog bercerita tentang tentara anak-anak dengan latar belakang situasi konflik berdarah perang saudara (1989-1993 dan 1999-2003) di Republik Liberia. Sebuah negara di kawasan pesisir barat Afrika. Negara ini sekarang menjadi salah satu negara termiskin di dunia yang kehidupannya benar-benar bergantung pada bantuan dunia internasional. Ekonomi ambruk, dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 85 persen (data 2005). Ribuan penduduknya di berbagai tempat pengungsian termasuk mereka yang lari ke negara-negara tetangga di Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading, masih sangat trauma.

Chritopher Minie (15) yang memerankan tokoh remaja militan Johnny Mad Dog dan Daisy Victoria Vandie (16) yang memerankan Laokole amat pas melakoni tokoh masing-masing. Johnny berperan sebagai pemimpin regu tentara anak-anak berumur sekitar 9-15 tahun yang bengis. Bukan hanya membunuh, merampok dan menjarah, menembak orang-orang tak bersalah, anak-anak, dan keluarga, tapi juga melakukan perkosaan terhadap remaja dan perempuan dewasa. Dalam film Johnny Mad Dog, digambarkan secara nyata sebuah negeri tanpa aturan, hukum, dan perlindungan HAM, tak ada lagi sopan santun, tak ada lagi rasa hormat anak kepada orang tua, tak ada lagi moral, apalagi simpati dan empati pada orang lain kecuali takluk pada pimpinan kelompoknya sendiri secara eksklusif. Jika tidak taat, maka akan disiksa atau ditembak mati di depan anggota lain.

Tokoh Laokole adalah seorang remaja putri yang hidup miskin dengan seorang ayah cacat kedua kakinya (diamputasi akibat kena senjata) dan seorang adik laki-laki, Fofo (8). Situasi hidup yang serba sulit, membuat Laokole sangat tegar menghadapi berbagai persoalan. Termasuk ketika ayahnya ditembak mati dan adiknya yang raib entah ke mana.

Yang juga cukup unik dari para personel tentara anak-anak ini adalah meski mereka bengis, ngawur, tapi pada hakekatnya mereka adalah tetap anak-anak. Kondisi itulah yang coba digambarkan secara utuh oleh Jean-Stephane Sauvaire. Kostum mereka tetap khas anak-anak. Selain ada personel yang selalu menggantungkan sebuah boneka di pundaknya, ada pula yang berambut gaya Mohawk, ada pula yang selalu menenteng radio-tape besar di punggungnya, dan ada juga seorang tentara anak-anak yang selalu memakai sayap-sayapan serangga seperti milik tokoh malaikat di punggungnya. Bahkan, ada seorang personel yang karena menemukan gaun pengantin saat penjarahan, maka dipakainya baju pengantin perempuan itu ke mana-mana. Konyol tapi lucu. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak yang masih mendambakan sebuah model figur, pencarian jati diri. Figur inilah yang seringkali ditiru dan amat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak saat masa pertumbuhan. Dalam film Blood Diamond karya sutradara Edward Zwick, sempat pula diceritakan tentang keberadaan kamp tentara anak-anak yang berlatar belakang di Sierra Leone, Afrika.

***

Itulah sebabnya mantan Presiden Liberia Charles Taylor diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia dituduh telah mengorbankan ribuan anak sebagai tentara anak di negeri yang dipimpinnya. Taylor menyangkal, tapi mantan pengawal pribadinya dan dunia memberikan kesaksian yang tak terbantahkan.

Badan PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF mencatat, sedikitnya ada 38 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil paksa anak-anak (8-16 tahun) dari keluarga atau lingkungan sosialnya untuk dilatih di kamp paramiliter dan dijadikan tentara di negara-negara yang sedang berkonflik. Ketua UNICEF Jerman, Dietrich Garlichs menceritakan, di banyak negara yang terlibat dengan kasus tersebut bukan sekadar mencuci otak anak-anak, dengan memasukkan berbagai ajaran ideologi sektarian, politik yang dangkal, dan keagamaan yang sempit, tapi juga mencekoki mereka dengan narkoba. Dalam beberapa kasus, seperti diceritakan mantan tentara anak, Ishmael Beah, dalam buku memoarnya A Long Way Gone, bahwa kehidupan normal anak-anak telah dicabut. Mulai dari lingkungan terdekat telah hancur, keluarga dihabisi, dan harapan dibuat menjadi suram. Anak-anak di daerah konflik dipojokkan ke dalam situasi tertentu, hingga tidak ada pilihan lain. Ishmael Beah adalah lulusan lembaga pendidikan United Nations International School tempat rehabilitasi mantan tentara anak-anak dan juga anak-anak korban perang.

Lembaga Palang Merah Internasional, ICRC (International Committee of the Red Cross), memperkirakan ada sekitar 500.000 tentara anak-anak di dunia. Sementara sekitar 300 ribu anak ada di Afrika, dan 40% dari mereka adalah anak perempuan. Sebagian besar lainnya, ada di beberapa negara di kawasan Asia dan Amerika Latin. Jumlah itu, tentu tidak termasuk anak-anak yang dipaksa menjadi teroris dan calon pelaku bom bunuh diri di kamp-kamp pelatihan yang amat dirahasiakan. Kepastian data anak-anak yang dijadikan teroris ini sulit diperoleh. Militer dan polisi Pakistan akhir Juli lalu berhasil menemukan kamp rahasia untuk menggembleng anak-anak calon teroris. Puluhan anak dalam kondisi mengenaskan ditemukan di sini. Menurut sumber resmi Pakistan, anak-anak itu diambil paksa dari keluarga mereka di kantong-kantong kelompok Taliban dan dilatih oleh sayap militer Al-Qaidah.

***

Indonesia memang jauh dari daerah-daerah konflik di Afrika, maka secara psikologis juga agak sulit merasa ‘terlibat’ dengan persoalan tentara anak-anak. Tapi ketika Dani Permana pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi silam, yang kemudian diketahui masih berusia remaja (18) dan baru lulus SMA Juni 2009, kita semua terkaget-kaget. Saya pun sempat lemas. Bagaimana tidak? Saya mempunyai anak yang juga masih remaja dan duduk di bangku SMA.

Saya cukup paham dengan perilaku dan kharakter anak-anak remaja seusia itu. Karena saya pernah mengajar di SD, SMP, dan SMA. Masa usia anak-anak dan remaja itu sangat unik dan lugu, tapi amat rentan hingga mudah dipengaruhi. Perkembangan kejiwaannya sangat khas, sedang mencari figur untuk model dirinya. Maka saya berani mengatakan, perekrut anak-anak untuk suatu misi terorisme atau tentara anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tiada duanya. Jangan jadikan anak-anak kita sebagai mesin pembunuh. Stop tentara anak-anak!

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: