USAHAKANLAH KESEJAHTERAAN KOTAMU


Taken from YABINA

“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang , dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada ditengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu demi nama-Ku. Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 29:7-9)

Kota Jakarta kembali mengalami gejolak dimana dalam demonstrasi sekitar SI-MPR telah terjadi bentrok aparat dengan mahasiswa yang terkenal dengan “tragedi Semanggi” dan menghasilkan korban 14 orang mahasiswa dan rakyat meninggal dan sekitar 400 lebih luka-luka dan dirawat di rumah sakit karena tertembak. Tragedi berdarah itu kemudian menghasilkan imbas kerusuhan perkotaan dengan adanya pengrusakan dan penjarahan ratusan bangunan dan pembakaran mobil. Suasana yang traumatis yang mengingatkan orang akan “tragedi Trisakti” di bulan Mei 1998 kembali terulang dan lebih berdarah dan terjadilah kelangkaan kesejahteraan kota.

Memang kerusuhan-kerusuhan yang merebak di kota-kota membuat penduduknya merasa tidak sejahtera . Bermacam-macam perilaku umat Kristen dapat dilihat dalam menghadapi ketidak sejahteraan kota itu. Banyak orang Kristen kabur menyelamatkan diri ke luar negeri tetapi lebih banyak lagi yang kemudian lari kepada ajaran-ajaran yang tidak riel yang tidak mendarat, misalnya yang mengajarkan kemakmuran dengan menjanjikan hidup makmur di saat ini, ajaran-ajaran yang emosional dan membius yang cenderung menjadi ibadat pelipur lara dan menawarkan ecstasy rohani, nubuatan-nubuatan dan kesaksian-kesaksian yang sensasional atau ajaran pelarian yang mengajak orang melarikan diri kepada pengharapan keselamatan di “Akhir Zaman.”

Sejalan dengan ibadat-ibadat yang cenderung narsistik mengasihi diri sendiri, sensasional dan ecstasis itu terlihat pula dalam menghadapi situasi gejolak kerusuhan perkotaan dimana umumnya umat Kristen lebih cenderung memikirkan dan mencari jalan penyelamatan diri sendiri dan kurang peka kepada lingkungannya, dan kurang memiliki “sense of crisis”. Di Bandung, ada gabungan kelompok mahasiswa yang mendirikan Posko bersama. Ini berita baik, hanya yang disayangkan adalah bahwa pelayanan itu ditujukan bukan untuk membantu kesejahteraan kota, tetapi diarahkan untuk kesejahteraan lingkungan sendiri, yaitu bagaimana melakukan penyelamatan bersama kalau timbul kerusuhan yang menjadikan umat Kristen dan gedung gereja sebagai sasaran.

Dikala krisis ekonomi, sosial, hukum dan politik Indonesia mencapai titik kristis dan dimana sekitar 70% orang Indonesia mengalami saat-saat kritis berupa kemiskinan dan pengangguran, masih banyak orang Kristen yang masih melakukan pesta-pesta Natal berlebihan, membangun gedung gereja dengan mewah atau mengadakan gebyar-gebyar musik rohani selebriti di hotel-hotel mewah yang mencerminkan tidak adanya kepekaan lingkungan dan kepedulian sosial seakan-akan disekelilingnya tidak ada kesusahan. Bahkan, dalam situasi keprihatinan sosial ada jaringan doa yang cenderung mempopulerkan doa dan puasa tetapi disaat krisis ini merasa perlu memperbesar kantornya dan meminta sumbangan gedung lebih dari satu milyar agar dapat lebih melayani jiwa-jiwa terhilang suku-suku terasing, padahal di kota makin banyak orang yang sekarang terasing dari sembako, terasing dari pekerjaan, dan terasing dari kebenaran dan keadilan Tuhan yang membutuhkan pelayanan kasih secara nyata.

Perilaku miskin “sense of crisis” disaat krisis demikian rupanya menjadi salah satu ciri yang melekat pada agama yang cenderung fundamentalistis dan vertikalistis. John Naisbitt dalam bukunya Megatrends 2000 mengungkapkan bahwa di saat manusia mengalami krisis mereka cenderung mengumpulkan guru-guru yang mengajarkan ajaran yang otoriter dan fundamentalistis, dan jauh sebelum itu Karl Marx mengkritik umat beragama yang menjadikan “agama sebagai candu bagi jiwa” padahal saat itu masyarakat sedang mengalami dampak depresi industrialisasi yang menghasilkan jurang kaya miskin yang besar antara para buruh dan pemegang modal.

Situasi demikian juga di alami nabi Yeremia. Pada saat itu umat Yahudi mengalami pembuangan di Babil dan ditengah-tengah kemelut yang dialami bangsa Yahudi itu bermuncullah para nabi yang cenderung mengajarkan ajaran yang tidak mendarat. Ciri-ciri para nabi itu adalah mengajarkan “harapan yang sia-sia” dan “keselamatan semu” (Yer.23:16-17) dan mereka ingin melepaskan diri dari pembuangan di Babil dengan mencari jalan selamat dan mengarahkan pada terjadinya “Akhir dari Zaman Pembuangan” dimana mereka mendambakan kemakmuran padahal Tuhan melalui nabi Yeremia telah menubuatkan bahwa mereka harus merasakan penderitaan pembuangan sampai 70 tahun lamanya sebelum janji kesejahteraan Tuhan dianugerahkan kepada umatnya yang setia.

Ditengah dambaan palsu yang dipromosikan oleh para nabi palsu itu, Tuhan melalui nabi Yeremia dengan tegas mengingatkan berhati-hatilah agar jangan diperdayakan oleh para nabi yang menjual nubuatan-nubuatan, ramalan maupun mimpi-mimpi sebagai komoditas rohani, tetapi agar umat yahudi berjuang keras kearah “kesejahteraan kota karena kesejahteraan kota adalah kesejahteraan mereka juga.”

Kelihatannya dalam konteks orang-orang Yahudi rasanya mereka sulit untuk membantu kesejahteraan kota Babel yang menjajah mereka, tetapi firman Tuhan cukup tegas, bahwa sekalipun orang Babel nanti akan dihukum Tuhan, di saat dan waktu dimana mereka berada, umat Yahudi harus bertanggung jawab pula akan kesejahteraan kota Babel. Para nabi palsu ingin lepas dari tanggung jawab horisontal ini dan ingin cepat-cepat lepas dan menyelamatkan diri, tetapi dalam figur Daniel dan kawan-kawannya mereka yakin akan panggilan Tuhan untuk ikut serta dalam kesejahteraan negara sekalipun itu negara yang menjajah mereka.

Umat Kristen di Indonesia bukan orang jajahan melainkan orang merdeka, maka kalau terhadap penjajah kita harus ikut berperan serta dalam menyejahterakan kota dimana kita tinggal, maka lebih lagi sebagai orang merdeka yang ikut memiliki kota, umat Kristen harus pro-aktif dalam berperan serta dalam menyejahterakan kotanya. Kita perlu rela mengorbankan kesenangan diri demi kesejahteraan bersama, dan segenap sumber daya dan dana perlu diarahkan kepada pelayanan kasih kepada sesamanya.

Kesejahteraan kota banyak dirusak oleh para pelaku KKN dan menghasilkan orang-orang miskin yang tergusur yang sebagian terjatuh dalam dosa penjarahan . Umat Kristen perlu ikut dalam mengkritik para pelaku KKN terutama bila itu dilakukan oleh orang Kristen sendiri, dan membantu korban-korban kerusuhan kota sekuat mungkin. Adalah tidak benar bila umat Kristen membagi-bagi sembako bagi yang miskin dan susah dan tidak mengkritik para konglomerat yang membuat mereka miskin dan susah, dan lebih tidak benar kalau justru mereka membagi-bagi sembako dari sumbangan konglomerat yang dihasilkan dari perbuatan KKN misalnya.

Sudah tiba saatnya umat Kristen menyadari perannya dalam konteks kota-kota di Indonesia yang sekarang banyak mengalami gejolak, demonstrasi dan kerusuhan yang membuat masyarakat menderita, karena firman Tuhan menyuruh “Usahakanlah kesejahteraan dan berdoalah untuk kotamu, karena kesejahteraannya adalah kesejahteranmu.”

Amin.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: