Keturunan Raja Marsundung Simanjuntak


taken from Tempo

Keturunan Raja Marsundung Simanjuntak bersirangkulan di Wisma Hermina, Mampang, Jaksel. Mereka sepakat menghapus mitos perseteruan yang diterima turun temurun. Parhobo Jolo dan Pudi Menyatu.

Merasionalkan mitos. Setelah empat abad, kerukunan itu digalang di Jabotabek.

CABIK-cabik bulu ayam, lebih kurang begitulah jika orang sekaum bertikai. Apalagi dua bersaudara, betapa pun tidak bertegur sapa, akhirnya rukun juga. Etika ini kini yang dilakukan turunan marga Simanjuntak, ketika mereka bersirangkulan serta bersalaman di Wisma Hermina, Mampang, Jakarta Selatan, dua pekan lalu.

Ada gondang ditabuh bertalu-talu, lalu acara makan bersama. Tak cuma itu. Pertemuan yang diprakarsai Humala Simanjuntak itu, yang sehari-hari Wakil Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara, juga menelurkan persatuan: pomparan — keturunan — Raja Marsundung Simanjutak se-Jabotabek.

Pomparan marga ini lama pecah dua, yang sejarahnya lumayan panjang. Kalau mau dihitung, ya, sudah berlangsung selama empat abad. Perilaku khas ini menarik, karena mitos perseteruan ini diterima turun-temurun secara damai oleh pihak masing-masing. Sehari-hari dua pihak Simanjuntak mungkin saja bergaul ramah- tamah, kecuali dalam urusan adat.

Kisah selengkapnya, begini. Raja Marsundung Simanjuntak adalah nenek moyang turunan marga Simanjuntak yang semasa hidup punya istri dua. Istri pertamanya, Boru Hasibuan, meninggal dunia ketika putra satu-satunya, Parsuratan, masih kecil. Marsundung lalu mengawini Boru Sihotang, yang melahirkan dua putri, Si Boru Naindo dan Naompun, serta tiga putra, yakni Raja Mardaup, Raja Sitombuk, dan Raja Hutabulu.

Ketika Marsundung meninggal, ia mewariskan seekor kerbau. Baik Parsuratan maupun Si Boru Naindo merasa berhak memiliki. Lalu mereka sepakat membaginya. Sang abang mendapat bagian depan kerbau, sedangkan adik-adiknya mendapat bagian belakang.

Sejak itu Parsuratan dan turunannya dijuluki Simanjuntak parhorbo jolo, kerbau bagian depan. Tapi, para insider memolesnya menjadi Simanjuntak Parsuratan. Dan turunan Si Boru Naindo disebut parhorbo pudi, kerbau bagian belakang, yang juga dihaluskan menjadi Simanjuntak Sitolu Sada Ina — tiga putra satu ibu.

Harap jangan salah paham, meski sudah dibagi, sang kerbau tetap sehat walafiat. Parsuratan menggunakannya untuk membajak sawah. Si Boru Naindo setuju. Sebab, bajak memang ditarik bagian leher (depan) kerbau. Tapi ketika kerbau itu beranak, giliran Parsuratan yang sesak. Karena Naindo mengklaim anak kerbau sah miliknya. Kan tak ada kerbau lahir dari bagian depan?

Walhasil, ribut. Karena ingin menguasai kerbau secara utuh, Parsuratan membunuh adiknya. Tentu saja ibu tirinya, Boru Sihotang, murka. Tapi karena tak berdaya, apalagi ketiga putranya masih kecil, ia hanya mengucapkan sumpah: las so mardomu anakku tu anakni boru Hasibuan. Artinya, tak akan bertemu anakku dengan keturunan Boru Hasibuan.

Hikayat ini kemudian dituturkan turun-temurun, hingga kedua kelompok ini tak pernah bergabung dalam satu adat. Meski tanpa sepotong kata bertuah yang dinazamkan Boru Hasibuan, para anak cucu Simanjuntak selama ini tak ada yang melanggarnya. Sebab, akibatnya dipercayai bisa fatal.

Misalnya, dalam keyakinan mereka, hujan lebat turun jika mereka berbaur dalam satu upacara adat. Bahkan nasi untuk pesta pun bisa tak matang. Malah, kodok dan ular gentayangan mengganggu pesta. Banyak pula yang meyakini: jika mereka menumpang bus yang sama, kendaraannya akan celaka.

Seperti diceritakan Sabar Simanjuntak, 24 tahun, mahasiswa antropolgi USU Medan, “Aku pernah membatalkan perjalanan ke luar kota, sebab orang yang duduk di sebelahku dari parhorbo jolo.” Ia sendiri dari parhorbo pudi. “Soalnya, perasaanku tak enak,” katanya kepada Irwan E. Siregar dari TEMPO.

Jadi, tak kurang dari mereka yang berpendidikan pun belum serta-merta menawar hikayat nan lapuk itu. Namun, dari kalangan terpelajar ini pula ada penalaran baru — baik pro maupun kontra. “Itu hanya akan mengorek luka lama,” kata B.A. Simanjuntak, M.A., dosen IKIP Negeri Medan. “Jika kalangan yang fanatis sudah tiada, saya yakin mitos itu akan hilang,” kata master antropologi budaya dari Universitas Leiden ini.

Pandangan serupa juga datang dari Dokter Hesman Simanjuntak, ahli jantung di RS Pertamina Jakarta. Ketua Perkumpulan Simanjuntak Sitolu Sada Ina Jakarta ini bahkan melihat apa yang dianggap permusuhan kedua kelompok ini adalah omong kosong. “Periksalah semua arsip di Indonesia, pasti tak ada catatan pernah terjadinya perkelahian kedua kelompok itu,” katanya.

Hesman malah mengaku akrab dengan kelompok Parsuratan, baik sewaktu main golf maupun di kantor. Pasiennya juga ada yang dari kelompok Parsuratan. Namun, ia tetap menampik satu atap dengan kelompok Parsuratan dalam pesta adat. “Kita harus menjaga tradisi,” katanya, seraya menjelaskan parhorbo jolo dan parhorbo pudi itu marga yang terpisah. “Masa, perkumpulan marga Tobing beranggotakan marga Siahaan,” katanya.

Sebenarnya, pencetus rujuk, Humala Simanjuntak, tidak kalah rasionalnya dengan B.A. Simanjuntak dan Hesman. Ia mengambil nama Marsundung, karena inilah mula asal marga Simanjuntak. Jadi, bukan dari Parsuratan atau Si Boru Naindo. “Idenya adalah tetunggal ompu (kakek), bukan tetunggal ibu seperti Si Boru Naindo,” katanya.

Itu dasarnya Humala ingin mempersatukan jolo dan pudi. Ia membentuk Perkumpulan Marsundung, 1968, di Medan. Kemudian di Semarang, 1984, dan dua pekan lalu di Jakarta. Sebagai hakim ia sering pindah tugas.

Jika gagasan Humala disambut gempita oleh segenap marga Simanjuntak, hasilnya niscaya menarik. Sehingga, jika ada an ggota Marsundung yang pindah ke kota yang hanya ada Persatuan Sitolu Sada Ina, maka tidak perlu lagi cemas, sebab ada keluarga besar yang mengurusnya. “Kan orang Batak terkenal dengan adatnya,” kata Humala. Horas.

Bersihar Lubis, Liston P. Siregar, dan Irwan E. Siregar,

About these ads

7 responses

  1. parade senja | Reply

    mantap

  2. HUMALA SIMANJUNTAK | Reply

    Jangan kita orang Batak menarik Silsilah dari perempuan dari laki2 dong kalau bicara hula2 ya dari perempuan, kalau bicara dongantubu ya dari leluhur Laki2 Raja Marsundung bangga dong menyebutnya itu bahagian dari jati diri kebanggaan menyebut nama bapak bagi orang Batak memang sangat hormat kpd ibu karena yg melahirkan tetapi tdk lazim menyebut dalam tarombo sebut dong nama bapak kalau anak bapa kalau anak ibu siapasih bapaknya cuman ingin tanya.

  3. trus
    ntu yang kita pupuk bagimana genersai sekarng melupakan marganya
    khusunya simanjuntak
    jadi acera seperti yng harus terus dkembangkan
    semngt
    jclus

  4. Osten Simanjuntak | Reply

    Sangat setuju dengan sejarah singkat diatas (Poda Bapak Tua Humala Simanjuntak). Memang sudah seharusnya persilisihan itu kita kubur bersama dan sekarang sudah abad 21, teramat naif kalo masih kita bawa sampai dunia milinium ini. Buang rasa EGO, DENDAM terhadap kita dalam satu MARGA ” SIMANJUNTAK ” hanya satu pertanyaan untuk kita sekarang sebagai generasi penerus ” SAMPAI GENERASI KE-BERAPA KITA KHUSUSNYA SIMANJUNTAK DICEKOKKAN OLEH DOSA KETURUNAN ” Sama-sama kita introfeksi DIRI. Tunjukkan bahwa kita ini di GENERASI yang MODERN mari kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah biar hubungan ini HARMONIS sepanjang masa. HORAS…HORAS…HORAS…

    Best regards,
    Osten Simanjuntak, ST

  5. Setuju…. Simanjuntak asalnya kan satu dari Raja Marsundung. Cuma Mitos aja yang Bikin gak Akur. Kalau sekarang sudah akur ya Puji Tuhan…. Mari Kita Bagun Bona Pasogit

  6. orang yang merhargai sejarah adalah orang yang besar..

  7. simatuaku br.Simanjuntak(parsuratan).di sada tiki naeng mendaftar hami tu punguan ni simanjuntak alai pintor disungkun simanjuntak dia do hamu?
    jadi tung mansai do roha pajupang iba di tulisan on.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: